Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 08 FEBRUARI 2026 • 21:58 WIB

Kisah Legenda Toar dan Lumimuut, Leluhur Dari Suku Minahasa

Kisah Legenda Toar dan Lumimuut, Leluhur Dari Suku MinahasaPatung dari Toar dan Lumimuut di Bukit Kasih Kanonang (Midori (Wikimedia))

Sulawesi Utara - Suku Minahasa diyakini adalah keturunan dan warisan dari Toar dan Lumimuut. Cerita dari kedua sosok ini, diceritakan turun temurun dengan memperkenalkan mereka sebagai nenek moyang dari suku Minahasa. Terdapat dua versi cerita dari Toar dan Lumimuut, dua-duanya patut untuk diketahui oleh segala kalangan untuk melestarikan budaya serta menanamkan nilai moral lewat mengenalkan kearifan lokal. Seperti apa kedua versi cerita rakyat Toar dan Lumimuut? Simak berikut rangkuman dari Indozone!

Versi Cerita Rakyat

Dahulu kala, di tanah Minahasa Opo Wailan Wangko sebagai Dewa tertinggi melihat kesuburan dari tanah, dan kebaikan alam di sana. Ia, lantas mengutus Karema seorang walian pertama di Minahasa untuk menghasilkan keturunan pertama yang mendiami Minahasa. Karema, melahirkan Lumimuut yang memiliki arti tanah. Sebagai seorang putri dari Karema, Lumimuut menjadi seorang prajurit yang melindungi alam dan mencintai setiap isi yang ada dalamnya. Lumimuut, digambarkan memiliki keberanian seperti batu karang, kecerdikan seperti deruh air  dan kecantikan yang bersinar seperti matahari. Dari matahari itulah, lantas selanjutnya Toar terlahir dan menjadi Tona'as pertama di Minahasa. Bersama Lumimuut, beranak cuculah mereka dan mendiami tanah Tonsea dengan Toar yang memimpin mereka dengan mengajarkan cinta kasih dan menghormati alam.

Versi Sejarah Deutro Mongoloid

Deutro Mongoloid adalah nenek moyang bangsa Indonesia yang datang dari Yunnan, Tiongkok Selatan. Berdasarkan dari kisah mereka, versi sejarah Toar dan Lumimuut dimulai dengan Toar dan Lumimuut yang menjadi pasangan dan berasal dari kekaisan Mongolia yang dipimpin oleh kaisar Genghis Khan. Ini, tampak dari logat yang digunakan oleh Toar dan Lumimuut dahulu kala. Pada saat itu, sang kaisar mempersatukan suku-suku mongolia dengan Toar Lahope yakni Toar sebagai panglima perangnya. Toar merupakan seorang prajurit yang hebat, kepemimpinannya berhasil membawa kekaisan Mongolia menguasai Eurasia. Ogedei Khan, putra dari Genhis Khan merasa cemburu pada Toar atas prestasinya dan tergila-gila akan Lumimuut yang menjadi kekasih Toar. Toar lantas merencanakan untuk kabur bersama Lumimuut, dan bertarung dengan pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh Ogedei Khan untuk menghabisinya. Namun, akibat penyerangan itu Toar terpaksa menyuruh Lumimuut untuk berlabuh sementara dia bertarung dan bersembunyi 2 tahun lamanya dari pengejaran Ogedei Khan.

Setelah pelarian dan persembunyiannya, Toar akhirnya menyusul Lumimuut yang dalam masa penungguan kekasihnya, menjelajahi tanah Minahasa. Mereka, bertemu kembali di Likupang, dimana di sana, sebuah rombongan orang asing telah sampai duluan. Di tanah itu, Toar dan Lumimuut dinikahkan oleh seorang pemimpin kampung yang bernama Karema, Karema, lantas mengutus Toar dan Lumimuut ke dalam pegunungan dan hutan untuk beranak cucu dan menghindari tentara Mongolia.

Tanah tempat Toar dan Lumimuut tinggal selanjutnya dikenal sebagai Tonsea, di tempat ini mereka dipercaya memiliki anak bersama-sama dan membesarkan cucu-cucu mereka untuk menjadi prajurit-prajurit yang mencintai alam dan tidak gentar dan selanjutnya setelah ratusan tahun kita kenali sebagai Kawasaran.

Jejak Toar dan Lumimuut di Tanah Minahasa

Di sejumlah wilayah yang ada di Minahasa, kehadiran dari Toar dan Lumimuut sebagai leluhur suku Minahasa dapat ditemukan. Di lokasi wisata budaya dan alam tepatnya di Bukit Kasih Kanonang, pahatan wajah Toar dan Lumimuut terpampang jelas menyambut para wisatawan dari atas pegunungan dengan kawah air belerang di bawahnya.

Selain di Kanonang, di Desa Palamba, didalam lereng pegunungan, sebuah waruga atau kuburan dari batu berbentuk prisma diyakini menjadi makam Toar dan Lumimuut. Seorang peneliti dari Jerman, mengkonfirmasi terdapat dua rangka manusia yang terkubur dari bawah batu dengan sejumlah barang-barang seperti; pedang dan tongkat. Waruga ini ditemukan oleh warga ribuan tahun lamanya, terdapat dua ukiran di atas waruga ini: seorang laki-laki yang diyakini sebagai Toar terukir pada bagian utara, dan seorang perempuan yang diyakini sebagai Lumimuut terukir pada bagian sisi selatan. Waruga Toar Lumimuut ini, ditetapkan sebagai situs Cagar Budaya, masyarakat dan sejumlah organisasi melaksanakan kegiatan di tempat ini seperti bertamasya dan belajar. 

Kisah rakyat, serta pengetahuan untuk memahami warisan dari leluhur menjadi hal yang penting dikarenakan fondasi dari identitas budaya bersumber dari cerita masa lampau. Cerita masa lampau ini, adalah jembatan penghubung antar generasi, sehingga mengetahui cerita Toar dan Lumimuut membantu kita untuk menjaga jati diri kita sebagai keturunan mereka. Sampe Bakudapa Ulang!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Legenda Toar dan Lumimuut, Leluhur Dari Suku Minahasa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!