Potret Dari Burung Rangkong Yang Hidup di Cagar Alam Tangkoko (Hongbin (Unsplash))
Sulawesi Utara - “Ikan cakalang adalah identitas orang Sulawesi Utara.” Indozone, mungkin kalimat itu terdengar sederhana, tetapi siapa pun tau, kalau ikan cakalang adalah sebuah budaya, ekonomi, hingga kebanggaan sebuah wilayah bernama Kota Bitung.
Kalau berbicara tentang ikan cakalang, rasanya kurang lengkap kalau belum menyinggung Kota Bitung. Kota pesisir yang dikenal sebagai pusat industri perikanan terbesar di Sulawesi Utara ini, bukan cuma tentang laut dan hasil tangkapan ikan.
Selain industri perikanannya, nyatanya Kota Bitung juga menyimpan banyak tempat menarik untuk dijelajahi. Buat kamu yang penasaran ingin mengenal lebih dekat suasana Kota Bitung dan kehidupan masyarakat pesisir Sulawesi Utara, berikut beberapa tempat dan pengalaman seru yang wajib masuk daftar petualanganmu.
Jalan-jalan di Kota Bitung, tentu ngak bakal lengkap kalau tidak mampir ke Selat Lembeh. Selat sepanjang 16 kilometer yang memisahkan daratan utama Kota Bitung dengan Pulau Lembeh ini bukanlah perairan biasa. Di kalangan penyelam internasional, Selat Lembeh dihormati dengan gelar yang sangat mewah, yaitu "The Mecca of Muck Diving" atau kiblatnya penyelaman bawah laut di atas dasar pasir berlumpur.
Nah, alasan kenapa Selat Lembeh ini dipuja-puja, dikarenakan Selat Lembeh memiliki keunikan yang menawarkan sensasi petualangan pada dasar laut mereka, dimana ribuan spesies satwa laut berukuran mikro yang aneh, unik, dan langka, hidup di satu lokasi yanng satu ini.
Selama bertahun-tahun, Selat Lembeh merupakan tempat erkumpulnya para fotografer bawah laut tingkat dunia yang berburu foto makro terbaik demi kompetisi internasional. Kamu mungkin khawatir tidak dapat menikmati Selat Lembeh dikarenakan belum ahli menyelam. Tidak perlu khawatir, terkhusus kamu yang pengen menikmati Selat Lembeh, terdapat beberapa spot dangkal seperti di sekitar Pantai Serena, yang mana aman sangat ramah, layaknya aktivitas berupa snorkeling.
Kalau kita bergeser sedikit ke arah timur Kota Bitung, tepatnya di wilayah Kasawari, kamu akan bertemu dengan sebuah lokasi dimana pemandangan landskap mereka gila abis dan magis. Namanya adalah Taman Wisata Alam Batu Angus. Sebuah lokasi wisata yang jadi jejak kekuatan geologis bumi dalam membentuk Kota Bitung yang sekarang dari berabad-abad lalu.
Kenapa dinamakan batu angus? Sama seperti namanya, secara harfiah "Batu Angus" memiliki arti batu yang terbakar. Kalau kamu bermain di batu angus, kamu bakalan disuguhi dengan batu hitam raksasa yang berongga hasil dari sisa-sisa aliran lava padat hasil erupsi Gunung Soputan atau Gunung Dua Sudara di masa purba yang bersentuhan dengan air laut pesisir.
Hal yang menjadikan Batu Angus unik adalah bagaimana kombinasi antara warna hitam pekat dari batuan vulkanis, berpadu dengan hijaunya vegetasi ilalang yang tumbuh di sela-sela batu, serta birunya air Laut Maluku yang jernih. Pemandangan ini, menciptakan sebuah lokasi wisata dengan atraksi mata visual yang luar biasa estetik.
Biasanya, Batu Angus ramai dikunjungi dengan para mempelai wanita dan pria yang hendak melangsungkan pernikahan untuk melakukan pemofotan, dikarenakan kecantikan dari tempat ini yang tepat untuk latar belakang potret mereka.
Untuk para petualang di alam bebas, maka Cagar Alam Tangkoko Batuangus adalah sebuah destinasi yang wajib masuk ke dalam daftar hidup kamu sekali dalam seumur hidup. Terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Bitung, cagar alam seluas lebih dari 3.000 hektare ini merupakan salah satu hutan konservasi terbaik di Indonesia yang menjaga keaslian ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.
Tangkoko adalah rumah perlindungan terakhir bagi beberapa satwa endemik Sulawesi yang paling terancam punah di dunia. Primadona utama dari cagar alam ini adalah Tarsius Spectrum, atau salah satu primata terkecil di dunia. Satwa nokturnal yang memiliki ukuran tubuh sebesar genggaman tangan manusia dengan mata bulat besar yang menggemaskan ini hidup di dalam rongga-rongga pohon beringin tua.
Selain tarsius, sepanjang perjalanan menembus rimbunnya hutan Tangkoko, kamu akan dengan mudah menjumpai kawanan Yaki atau Monyet Hitam Sulawesi. Yaki memiliki ciri khas berupa rambut jambul di kepala dan tubuh yang sepenuhnya berbulu hitam legam. Mereka hidup berkelompok, sangat cerdas, dan relatif ramah terhadap kehadiran manusia selama tidak diganggu.
Nah, perlu Indozone ketahui, bahwa untuk menjelajahi Tangkoko bakalan butuh fisik yang prima dan baik-baik saja, dikarenakan untuk menjelajahi tempat ini, kamu bakalan melakukan trekking menembus jalur alami hutan selama beberapa jam. Tapi, tidak perlu khawatir akan merasa bosan atau lelah, keindahan Burung Rangkong Sulawesi yang terbang bebas di kanopi hutan bakalan menemani kamu sepanjang perjalanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: