Sulawesi Utara - Selain meninggalkan luka pada bangsa Indonesia, bangsa Eropa selama ratusan tahun penjajahan mereka tidak lupa meninggalkan sejumlah warisan sejarah yang membangun jati diri dari bangsa kita sekarang. Di Sulawesi Utara, hal yang paling mencolok ditinggalkan oleh bangsa Eropa adalah gedung-gedung gereja di sejumlah wilayah yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Kristen dan Katolik di Bumi Nyiur. Indozone saat ini telah merangkum untuk kamu sejumlah bangunan gereja tua yang dibangun pada masa kolonial di Sulawesi Utara dengan rincian sampai lokasinya, sebagai berikut!
Gereja GMIM SION Tomohon
Gereja GMIM Sion Tomohon terletak di Kelurahan Paslaten Satu, Kecamatan Tomohon Timur. Gereja ini, pada masa sekarang berdiri di tengah-tengah Kota Tomohon, dan menjadi salah satu lokasi yang mendapatkan status sebagai Situs Cagar Budaya. Gereja ini, diperkirakan dibangun sekitaran tahun 1831 kemudian ditabiskan oleh Adam Mattern. Gereja GMIM Sion Tomohon, hingga kini berdiri teguh dengan sejumlah perubahan untuk pemugaran dan revisitalisasi. Beberapa peninggalan bangsa Belanda di gereja ini, tampak pada: mimbar tua berumur ratusan tahun dan masih digunakan sampai sekarang, pada lampu hias yang tergantung di tengah ruangan, dan pada jendela yang tidak pernah dirubah dalam proses pemugaran dan revisitalisasi.
Gereja Tua Malak
Salah satu dari gereja tua yang mendapatkan status Situs Cagar Budaya adalah Gereja Tua Malak. Terletak di Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Nama Malak, merupakan gabungan dari kata: Matungkas dan Laikit, pembangunan dari gereja ini diperkirakan terjadi pada tahun 1928 dan sepenuhnya menggunakan kayu cempaka. Hingga saat ini, bangunan desain awal, beserta kayu-kayu cempaka sebagai pondasi dari Gereja Tua Malak masih ada. Berdasarkan cerita dari masyarakat setempat, gereja ini pada masa peperangan selain menjadi tempat ibadah, juga menjadi tempat perlindungan hingga beberapa bekas tembakan mengarah pada gereja ini masih tampak sebagai sebuah bukti dari kehadiran penjajahan.
Gereja Hati Kudus Yesus
Setelah dua gereja sebelumnya merupakan gereja untuk umat beragama Kristen Protestan, Gereja Hati Kudus Yesus merupakan gereja untuk umat beragama Kristen Katolik yang terletak di Kelurahan Kolongan, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Gereja Hati Kudus Yesus dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama "Gereja Besi," dibangun pada tahun 1902, rumah ibadah umat Katolik ini memiliki arsitektur yang kental dengan gaya Eropa dengan sebuah menara di atasnya dari konstruksi besi. Menara ini, menjulang tinggi di tengah-tengah perkotaan Kota Tomohon dan belum pernah tergantikan sejak awal pembangunan Gereja Hati Kudus Yesus dan masih berfungsi sebagai tempat lonceng gereja. Hingga saat ini, Gereja Hati Kudus Yesus masih aktif dan menjadi rumah ibadah bagi umat katolik setiap minggunya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tomohon, telah mengajukan permintaan penetapan gereja ini sebagai salah satu Situs Cagar Budaya.
Gereja GMIM Schwarz Sentrum Langowan
Bagi orang Minahasa, Langowan tentunya merupakan sebuah wilayah yang tidak terlupakan. Di tengah-tengah pusat wilayah ini, berdiri sebuah bangunan tua yang masih kokoh, lengkap dengan sebuah patung yang menjadi landmark dari sosok misionaris terkenal; Johann Gotlieb Schwarz. Terletak di Desa Koyawas, Langowan Barat, Kabupaten Minahasa, gereja ini dibangun awalnya pada tahun 1847 sebagai salah satu gereja tertua di Minahasa dan tempat awal dari penyebaran Kristen Protestan di tanah Minahasa. Sayangnya, pada abad kedua, gereja ini digunakan sebagai tempat amunisi oleh Jepang, menjadikannya sebuah target oleh tentara sekutu dan diluluh lantakan dengan tanah. Berbekal dengan ingatan atas desain dan kerangka-kerangka yang tersisa dari bangunan awal gereja ini, Gereja GMIM Schwarz lantas dibangun lagi di tahun1959 lengkap dengan penempatan patung ikonik landmark Langowan, meski dengan bangunan baru, gereja ini masih memiliki gaya arsitektur khas Belanda, dengan lonceng gereja, dan kompas ayam jantan di atas atapnya.
Gereja Sentrum Manado
Didirikan pada tahun 1677, Gereja GMIM Sentrum Manado merupakan gereja paling tertua di Provinsi Sulawesi Utara, dan merupakan salah satu bangunan Situs Cagar Budaya. Gereja besar yang terletak di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Kota Manado ini didirikan oleh Belanda pasca masa kolonial. Beberapa tokoh berpengaruh dari Belanda, bahkan tercatat pernah mengunjungi lokasi ini. Bangunan dari gereja ini, pernah dihancurkan oleh bangsa Jepang pasca perang dunia II sehingga renovasi besar-besaran pernah dilakukan selain untuk pemugaran, juga untuk perbaikan. Di sebelah gereja sentrum ini, berdiri dengan kokoh tugu Perang Dunia II yang menjadi saksi bisu dari sejarah peperangan di Manado dan korban-korban yang berjatuhan.
Gereja Galilea Watumea
Gereja Galilea Watumea, merupakan gereja tertua di Minahasa yang hingga saat ini, arsitektur khas Belanda-nya masih tampak, dan masih digunakan secara aktif oleh jemaatnya. Didirikan pada perkiraan tahun 1860-an, gereja yang terletak di Desa Watumea, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa ini merupakan salah satu gereja di Sulawesi Utara yang telah ditetapkan sebagai bangunan Situs Cagar Budaya. Hampir seluruh bagian dari gereja ini terbuaat dari kayu, tampak depan dari gereja ini memiliki ciri khas dari gereja-gereja di Eropa yang tidak pernah berubah. Mimbar, dan kursi kayu di tempat ini telah berumur ratusan tahun, begitu pula kaca dan loncengnya yang tetap dilestarikan oleh masyarakat.
Bangunan-bangunan yang indozone sebut di atas ini menjadi bukti dari masa lampau. Tidak hanya menjadi saksi bisu, bangunan dari gereja-gereja tertua ini merupakan sebuah identitas dari sebuah bangsa yang perlu dilestarikan untuk generasi mendantang di kemudian harinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan