Potret dari Taman Purbakala Waruga Sawangan (Kementrian Pariwisata)
Sulawesi Utara - Bagi orang Minahasa, kubur adalah rumah baru dan tanda titik yang menandakan akhir setiap orang. Oleh karena alasan terkait, ketika kamu mengunjungi Sulawesi Utara, kamu dapat menemukan beragam kuburan unik yang dihias sedemikian rupa, sebagai tanda cinta dan penghormatan oleh anggota keluarga untuk mereka yang telah meninggal dunia.
Di antara kuburan-kuburan ini, Waruga atau pemakaman kuno berdiri berbeda daripada yang lain dan kini, telah menjadi warisan budaya paling berharga di Bumi Nyiur Melambai. Mau tau lebih lanjut soal Waruga? Simak artikel Indozone yang telah merangkup untuk kamu poin-poin penting untuk mengenal Waruga.
Waruga lahir dari kombinasi dua kata dalam bahasa Minahasa dengan Waru yang berati "tempat", dan Ruga yang berati "badan." Jadi, sama seperti namanya, secara harfiah Waruga merujuk pada tempat tubuh, dan dalam konteks ini adalah tempat pemakaman.
Tradisi pemakaman menggunakan Waruga ini, kurang lebih diperkirakan telah berkembang di Minahasa sejak zaman prasejarah, tepatnya pada zaman Megalitikum atau pada zaman batu besar, dan terus berlanjut hingga abad ke-19 sebelum akhirnya dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda yang saat itu menduduki wilayah Sulawesi, dikarenakan alasan kesehatan dan sanitasi.
Secara visual, Waeruga merupakan sebuah batu. Batu ini, terdiri dari dua bagian utama dengan bagian pertama sebagai wadah.
Pada Waruga, wadah ini berbentuk kotak segiempat panjang, bagian bawahnya memiliki sejumlah ornamen yang dipahat secara langsung di atas batu. Jenazah, dimakamkan di bawah bagian wadah ini. Umumnya, setiap waruga memiliki ketinggian wadah yang sama, namun untuk tetua adat, dan pemimpin lainnya biasanya wadah mereka akan sedikit lebih tinggi.
Kemudian, untuk bagian kedua dari Waruga adalah bagian penutup dengan sebuah kerucut yang menunjuk pada bagian udara. Bagian penutup Waruga ini memiliki bentuk yang menyerupai atap rumah Walewangko, atau rumah panggung khas Minahasa.
Bagian penutup ini, menjadi bagian penting dari sebuah Waruga, dikarenakan setiap identitas dari pemilik kubur waruga terkait, dapat diketahui dari sejumlah simbol-simbol kuno yang dipahat pada batu utuh wadah dari penutup Waruga.
Salah satu keunikan yang paling mencengangkan dan membedakan Waruga dengan sarkofagus di wilayah lain di dunia adalah posisi jasad di dalamnya. Jika makam modern membaringkan tubuh secara telentang, jasad di dalam Waruga diletakkan dalam posisi berjongkok dengan lutut menyentuh dada, mirip dengan posisi janin yang berada di dalam rahim seorang ibu.
Indozone, kamu pasti bingung, "kenapa ya dimakamkannya begitu?" Nah, alasannya ada di balik filosofi siklus kehidupan yang dipegang oleh nenek moyang Minahasa, dimana mereka percaya bahwa, manusia lahir dalam posisi suci di melipat di dalam lahir, maka setelah kematian, manusia tetap dalam posisi yang sama.
Potret lebih dekat dari waruga di area pemakaman Sawangan (Wikipedia)
Seperti yang Indozone sebutkan sebelumnya, pada badan wadah serta penutup waruga terdapat guratan-guratan relief mendetail yang jadi ornamen dari sebuah identitas, atau riwayat hidup dari orang yang dimakamkan. Beberapa ornamen yang dapat ditemukan dengan mudah di atas waruga adalah:
Ngak jarang, dalam Waruga ditemukan lebih dari satu jenazah. Sama seperti abad yang telah maju seperti sekarang, orang-orang pada saat dahulu pun tidak ingin untuk jauh-jauh dari anggota keluarga mereka, bahkan ketika mereka telah meninggal.
Ketika kisaran tahun 1828, akhirnya praktik pemakaman Waruga ini dihentikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang khawatir dengan penyebaran wabah penyakit, seperti tifus dan kolera, karena rembesan air dari celah kubur batu yang diletakkan di pekarangan rumah penduduk. Sejak saat itu, masyarakat beralih ke sistem penguburan tanah modern di pemakaman umum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan