Potret dari Sam Ratulangi (Wikipedia)
Sulawesi Utara - Menjadi nama jalan, lokasi, bahkan sebuah universitas, Sam Ratulangi tentu saja menjelma menjadi sebuah deretan huruf yang menghiasi sejarah Indonesia. Akan tetapi, kamu mungkin bertnaya-tanya, "siapa Sam Ratulangi?"
Sama seperti namanya, Sam Ratulangi adalahseorang pemikir besar yang melintasi sekat zaman, dan peletak dasar filosofi hidup yang hingga hari ini menjadi penuntun moral masyarakat Bumi Nyiur Melambai. Salah satu warisannya, adalah sebuah semboyan legendaris yang kini dipakai hidup oleh masyarakat Sulut, yaitu, Si Tou Timou Tumou Tou.
Penasaran lebih lanjut dari sosok sang nasional asal Minahasa yang visinya melompat jauh melampaui era kolonialisme ini? Simak berikut artikel dari Indozone.
Lahir dengan nama lengkap Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, di Tondano, Sam Ratulangi lahir pada tanggal 5 di dataran tinggi Minahasa.
Dahulu kala, Sam Ratulangi kecil tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menghargai pendidikan. Ayahnya, Jozias Ratulangi, merupakan seorang guru dan kepala sekolah yang dihormati, sementara ibunya, Augustina Rasu, adalah seorang perempuan tangguh yang menanamkan nilai-nilai moralitas Kristiani dan kedisiplinan yang kuat.
Lahir di tepian danau yang luas dengan arus modernitas barat melalui sekolah-sekolah misionaris. Sam Ratulangi menghabiskan masa kecilnya di riak air Danau Tondano membentuk karakter Sam Ratulangi menjadi pribadi yang tenang, reflektif, namun memiliki kedalaman berpikir yang luar biasa.
Sebagai anak dari seorang guru, Sam Ratulangi memulai pendidikan dasarnya dengan ditempu di Europeesche Lagere School (ELS) Tondano. Pada zaman itu, sekolah ini menjadi sebuah sekolah elit, dengan kesempatan bagi Sam Ratulangi dapat bergaul bergaul dengan anak-anak kalangan elite dan Eropa. Diberkati dengan bakat intelektual, Sam Ratulangi lantas menjadi anak yang menonjol sudah terlihat sejak dini.
Seolah tidak puas, selanjutnya rasa haus akan ilmu membawa Sam Ratulangi meninggalkan kampung halamannya yakni tanah Minahasa yang damai demi merantau ke Batavia, atau sekarang kita ketahui sebagai Jakarta. Di sana, Sam Ratulangi melanjutkan studi di Koning Willem III School dimana di sekolah ini, pada kala itu adalah sebuah sekolah teknik bergengsi pada masanya.
Pada tahun 1912, dilengkapi ambisi intelektual, seorang Sam Ratulangi tidak bisa dibendung oleh batas-batas geografis Hindia Belanda sehingga dia berlayar menuju Eropa. Tujuan Sam Ratulangi? adalah Belanda.
Di negeri kincir angin tersebut, Sam Ratulangi belajar ilmu teknik dan matematika. Tidak berhenti disitu, ia juga mulai menceburkan diri dalam gerakan pergerakan mahasiswa bernama Indische Vereeniging atau "Perhimpunan Hindia."
Pada tahun 1919, kini di negara keju yakni Swiss, ia berhasil meraih gelar Doctor der Naturwissenschaften atau Doktor Ilmu Pasti dan Alam dari Universitas Zurich. Di kala itu, prestasi ini sangat monumental. Di era ketika mayoritas pribumi bahkan tidak memiliki akses untuk membaca, seorang anak dari pedalaman Minahasa berhasil berdiri setara di mimbar akademis tertinggi Eropa.
Sekembalinya ke Hindia Belanda pada tahun 1919, kini bergelar Dr., Sam Ratulangi tidak memilih jalur aman dengan menjadi pegawai pemerintah kolonial yang digaji tinggi. Sebaliknya, Sam Ratulangi justru memilih jalan pedang yang sunyi namun berdampak besar: menjadi pendidik, jurnalis, dan aktivist politik.
Sam Ratulangi sempat tinggal di Yogyakarta untuk mengajar matematika di sekolah bentukan pergerakan, sebelum akhirnya pindah ke Bandung dan menjadi anggota redaksi dari surat kabar mingguan bernama Penindjauan. Melalui tulisan-tulisannya yang tajam namun berbasis data yang akurat, Sam menguliti ketidakadilan sistem kolonial, terutama dalam hal distribusi ekonomi dan pembatasan hak-hak politik bagi kaum bumiputera.
Kejeniusan diplomasi Sam Ratulangi, lantas selanjutnya membuat ia terpilih sebagai anggota Volksraad, yang saat ini kita kenali sebagai Dewan Rakyat pada tahun 1927 sebagai wakil dari Minahasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan