Potret dari seekor Burung Manguni (Luis Argaiz (Unsplash))
Sulawesi Utara - Burung Hantu adalah lambang kejelian, serta kecerdasan. Jenis hewan yang muncul berulang kali sebagai sosok misterius, cerdik dan bijak ini adalah gambaran utuh yang melekat pada burung Manguni di Sulawesi Utara. Dalam kacamata budaya masyarakat etnis Minahasa, satwa nokturnal ini tidak pernah dipandang sebagai pembawa mitos kegelapan yang menyeramkan, melainkan dihormati sebagai simbol kearifan lokal dan penanda isyarat alam.
Buat kamu yang penasaran dengan burung dari lambang Bumi Nyiur ini, simak berikut artikel dari Indozone yang sudah merangkum fakta-fakta unik tentan Burung Manguni.
Secara harfiah, nama “Manguni” merupakan sebutan lokal masyarakat Sulawesi Utara untuk seekor burung hantu endemik yang menghuni belantara Pulau Sulawesi beserta gugusan pulau di sekitarnya. Burung yang memiliki nama latin Tyto rosenbergii ini masih berada dalam rumpun yang sama dengan Otus manadensis, menjadikannya salah satu penghuni malam paling ikonik di kawasan timur Nusantara. Dalam berbagai cerita rakyat, Manguni kerap dipandang bukan sekadar satwa malam biasa, melainkan sosok penjaga sunyi yang kehadirannya terasa mistis namun menenangkan, seolah membawa bisikan hutan yang hidup setelah matahari tenggelam.
Dari jarak dekat, sosok Burung Manguni menghadirkan pesona yang sulit diabaikan. Tatapan matanya yang tajam berkilau di tengah gelap, dipadukan dengan bulu berlapis lembut berwarna cokelat keemasan, menciptakan kesan elegan sekaligus liar.
Banyak ahli menyebut bahwa Burung Manguni dibekali anatomi yang nyaris sempurna sebagai predator malam hari. Sayapnya mampu mengepak tanpa suara, pendengarannya sangat sensitif terhadap gerakan kecil di balik semak, sementara lehernya dapat berputar dengan luwes mengikuti arah mangsa.
Semua itu membuatnya tampak seperti makhluk whimsical yang lahir dari perpaduan antara keanggunan dan insting alam paling purba yang tenang, senyap, namun mematikan ketika berburu di bawah cahaya bulan.
Potret dari anatomi seekor Burung Hantu (Ronan Furuta (Unsplash))
Berasal dari Keluarga Tyto, Burung Manguni mempunyai wajah berbentuk piringan yang seperti hati dan berwarna putih keabuan dikelilingi warna cokelat tua. Nah, bentuk wajah piring dari Burung Manguni ini berfungsi mirip dengan antena parabola, menangkap getaran suara sekecil apa pun di dalam kegelapan hutan dan meneruskannya langsung ke lubang telinga mereka yang asimetris.
Burung Manguni di cap sebagai nocturnal apex predator. Kenapa? Burung ini memiliki sepasang mata besar berwarna hitam pekat atau cokelat tua milik Manguni dirancang untuk menyerap cahaya seminimal mungkin pada malam hari. Ketajaman penglihatan mereka dalam kondisi gelap gulita berkali-kali lipat lebih hebat dibandingkan mata manusia modern.
Untuk menambah keahlian berburu, Burung Manguni mempunyai struktur bulu sayap Manguni sangat halus dan memiliki tepi yang bergerigi. Desain alami ini memecah hambatan udara saat mereka terbang, membuat kepakan sayap Manguni sama sekali tidak mengeluarkan suara. Jadi, mangsa berupa mamalia kecil atau serangga tidak akan pernah sadar telah diintai oleh Burung Manguni sebelum akhirnya diburuh oleh mereka.
Lambang Minahasa dengan Burung Manguni di dalamnya (Wikipedia)
Nah, Burung Manguni mempunyai posisi yang unik dalam budaya masyarakat dengan etnis Minahasa. Berbeda dengan pandangan beberapa budaya barat atau daerah lain di Indonesia yang kerap mengaitkan burung hantu dengan simbol kematian, nasib buruk, atau hal-hal gaib yang menyeramkan, masyarakat Sulawesi Utara justru menempatkan Manguni di posisi yang sangat terhormat.
Dalam sejarah tradisi lisan Minahasa, Manguni dianggap sebagai burung yang bijaksana dan pembawa pesan dari Tuhan atau para leluhur. Konon katanya, dahulu suara dari Burung Manguni kala malam hari diamati oleh orang-orang dahulu dikarenakan kepercayaan mereka mengenai Manguni menjadi pembawa pesan. Berdasarkan kepercayaan ini, Burung Manguni dipercaya memiliki frekuensi dan ketukan yang berbeda-beda tergantung pesan yang ingin disampaikannya.
Contohnya adalah seperti suara Burung Manguni yang konstan dan jerni dimaknai sebagai tanda bahwa alam sedang berada dalam kondisi seimbang, panen akan berhasil, atau akan ada berkat kebahagiaan yang datang ke dalam desa. Sebaliknya, jika suara Burung Manguni terdengar parau, gelisah dan putus-putus, artinya sebagai sebuah pesan peringatan untuk masyarakat , baik itu terkait bencana, atau ancaman berbahaya lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan