Sulawesi Utara - Kasus pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia semakin marak terjadi selama beberapa waktu terakhir di tahun 2025 ini. Mereka, para korban dari tindakan keji dan bercela ini seringkali dipandang sebelah mata oleh khalayak umum. Bagi para penyitas pelecehan seksual, tindakan tak manusiawi yang dialami oleh mereka tidak berakhir hanya sampai di saat peristiwa itu selesai atau lewat.
Luka mental yang tak tampak secara fisik seperti self-blame dan PTSD adalah sebuah awal dari "badai" yang selalu mengiring korban pelecehan seksual sehingga menciptakan guncangan psikologis dan traumatis yang berkelanjutan dan mendalam.
PTSD untuk yang belum tau adalah kepanjangan dari Post-Traumatic Stress Disorder atau kegagalan sistem alarm otak untuk "berada" di kondisi normal setelah mengalami trauma. Korban Pelecehan seksual, sering kali terjebak dalam kondisi PTSD dan jatuh dalam lubang Self-Blame atau menyalahkan diri dalam kondisi siaga yang melelahkan.
PTSD bukan sekedar rasa sedih atau takut biasa. Jika rasa takut dapat memudar dan dapat dilawan, PTSD bersifat membeku atau membekas, sedikit kepingan sensorik seperti warna kendaraan, bau parfum atau sekedar suara sembarang dapat membawa seorang penyitas pelecehan seksual kembali menghidupi kenangan traumatis mereka yang dapat berefek panjang seperti self blame.
Penyalaan diri sendiri sering dirasakan oleh para penyitas pelecehan seksual oleh karena stigma sosial yang begitu keras. Secara logis jika kita pikirkan, korban tidak bersalah dalam hal ini namun secara psikologis di dalam pikiran mereka kejadian itu merupakan hasil pertahanan diri mereka yang salah. Sehingga di pemikiran para penyitas pelecehan seksual, kejadian itu dapat dicegah jika saja mereka tidak salah, misalnya; "saya seharusnya tidak lewat jalan itu," atau "saya seharusnya tidak memakai baju ini" dan lain-lain. Pemikiran para penyitas pelecehan seksual yang menyalahkan diri ini tidak lupa dibebani dengan stigma berat masyarakat sehingga mereka merasa malu, mereka merasa bersalah dan mengisolasi diri dari sosial maupun dari keluarga yang mana cenderung menjadi manifesti dari perubahan diri secara ekstrim seperti kehilangan kepercayaan diri dan merasa kehilangan masa depan dengan label sebagai korban dan menghantarkan mereka pada Depresi Mayor (berat) yang berakhir untuk menyakiti diri sendiri.
Kesadaran masyarakat, akan badai yang dialami oleh penyitas korban pelecehan seksual ini merupakan hal yang penting. Sebuah perubahan dimulai dari kita sendiri. Oleh sebab itu, jika kamu mengenal seseorang dengan masalah seperti yang dituliskan di atas, kamu dapat membantu mereka dengan mempercayai serta memvalidasi perasaan mereka. Jangan pernah membiarkan para penyitas pelecehan seksual sendiri dan selalu temani mereka dengan mendengarkan cerita mereka untuk membantu para penyitas menemukan kontrol mereka dalam kehidupan kembali. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang mengalami krisis atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan darurat atau profesional kesehatan mental setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan