Rabu, 20 MEI 2026 • 15:27 WIB

Ternyata, Seperti Ini Tradisi Pemakaman di Minahasa

Author

Ilustrasi dari potret sebuah pemakaman dan gereja (Einar Storsul)

Sulawesi Utara - Umur tidak ada yang tau. Kehidupan adalah bentuk mujikzat terbesar Tuhan untuk setiap ciptaan-Nya, termasuk dengan manusia. Di Sulawesi Utara, masyarakat Minahasa berbagi sebuah ritual pelepasan jiwa, serta penghormatan terhadap perjalanan hidup seseorang dalam rangkaian acara pemakaman yang memiliki tradisi berjalan di dalamnya. Penasaran? Ikuti jejak Indozone melihat budaya pemakaman di Minahasa.

Makna Kematian Bagi Suku Minahasa.

Dalam kehidupan tradisional Minahasa, setiap fase kehidupan manusia memiliki ritual penting, termasuk kelahiran, pernikahan, hingga kematian.

Di Minahasa, ada dua macam rombongan tradisi perayaan. Yang pertama adalah rombongan pernikahan dengan pengantin pria dan wanita yang diarak keluarga menuju gereja untuk didoakan, kemudian rombongan duka, dengan keluarga, masyarakat, yang mengarak peti jenazah menuju gereja untuk diberkati dan didoakan sebelum akhirnya menuju pemakaman.

Jika melihat dari sisi budaya orang Minahasa, kematian bukan berati sebuah akhir, melainkan sebuah perjalanan untuk pulang ke rumah Sang Pencipta. Oleh sebab itu, acara pemakaman menjadi salah satu tradisi paling sakral di Minahasa yang wajib ditanggung bersama-sama, baik itu keluarga, teman, bahkan tetangga, dikarenakan dipercaya di pemakaman ini adalah sebuah proses mengantar roh menuju alam berikutnya.

Jadi, jangan heran ketika dalam sebuah acara pemakaman di Minahasa, kamu bakalan menemukan orang-orang yang tidak saling berkenalan, terlibat membantu dalam proses pemakaman sebagai tanda mengenang almarhum, dan menghormati jasa mereka selagi mereka di dunia. Gerakan ini, dinamakan sebagai Mapalus. Sehingga, dalam acara pemakaman di Minahasa, tidak benar-benar ada yang namanya 'tamu'. 

Hingga saat ini, Mapalus menjadi sebuah sebuah gerakan nyata yang masih terlestarikan.

Tahapan Mengenang Orang Mati di Minahasa

Setelah seseorang meninggal dunia, rumah duka tidak akan benar-benar sepi sampai jangka waktu yang panjang, dan masih akan dipenuhi oleh anggota keluarga serta masyarakat yang datang melayat. Kenapa? Setelah pemakaman orang meninggal, akan ada:

1. Kumaus

Kumaus adalah salah satu tradisi paling khas dalam budaya dukacita Minahasa.  Kumaus memiliki arti, sebagai ibadah penghiburan yang dilakukan pada hari minggu setelah kematian seseorang. Kumaus dihadiri oleh masyarakat, pihak-pihak peribadatan. Biasanya, Kumaus berlangsung hingga beberapa minggu atau sampai memasuki peringatan tertentu seperti 40 hari.

Di sejumlah tempat di Minahasa, untuk membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, para tamu Kumaus diwajibkan untuk membawa makanan masing-masing sehingga nantinya dapat dibagikan agar seluruh tamu kumaus lainnya dapat ikut ambil bagian dari makan bersama.

2. 40 Hari

Setelah Kumaus, selanjutnya keluarga mendiang akan mengadakan ibadah 40 hari. 

Kenapa 40 hari? Dalam kepercayaan masyarakat setempat, roh dari orang yang telah meninggal belum meninggalkan dunia sebelum mencapai 40 hari. Ketika saat itu tiba, maka keluarga yang berduka menjadikan momen ini penting untuk mengenang anggota keluarga mereka yang telah meninggal, sekaligus mendoakan mereka di tempat yang lebih baik. 

40 hari biasanya dianggap sebagai hari yang lebih besar dibandingkan dengan Kumaus. Jadi, para kerabat  yang tinggal jauh, bakalan pulang kampung untuk menghadiri ibadah ini demi mengenang anggota keluarga mereka yang telah meninggal dunia.

Pada 40 hari, rumah keluarga kembali dipenuhi tamu, doa, dan suasana kebersamaan. Sesudah ibadah 40 hari, keluarga biasanya melakukan ziarah ke makam untuk membersihkan kuburan, menabur bunga, dan mendoakan orang yang mereka cintai. 

Hal ini dikarenakan, di Minahasa, makam sering dianggap sebagai tempat yang harus dirawat dengan baik karena menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan anggota keluarga yang telah pergi.

3. 1 Tahun

Akhirnya, setelah setahun seseorang meninggal dunia, keluarga kembali akan mengadakan ibadah 1 tahun sebagai peringatan akan perjalanan dukacita, yang kini telah mencapai sebuah siklus. Jangan salah, dalam perasaan berduka, momen satu tahun terasa sangat emosional karena mengingatkan bahwa waktu berjalan begitu cepat.

1 Tahun dirayakan oleh keluarga bersama dengan masyarakat setempat, kerabat serta dari kolega keluarga, dan yang dikenal oleh almarhum.

Jika kumaus terasa intim dan sederhana, peringatan satu tahun biasanya lebih besar dan meriah. Keluarga besar berkumpul dari berbagai daerah. Ada yang datang dari kota lain, bahkan luar negeri, demi menghadiri ibadah ini.

Di tanah Minahasa, duka tidak dijalani sendirian, semuanya mengajarkan bahwa manusia hidup melalui kenangan dan cinta yang ditinggalkan. Dari kumaus mingguan yang hangat, ibadah 40 hari yang penuh refleksi, hingga peringatan satu tahun yang mempertemukan kembali keluarga besar.

Hingga saat ini, tradisi-tradisi di atas masih dilakukan oleh masyarakat Minahasa. Duka cita pun di tanah Toar Lumimuut menjadi tanggungan bersama sehingga tidak ada yang merasa terbebankan, atau terlupakan. Indozone, kira-kira sudah ada yang pernah ke pemakaman di Minahasa? Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman serta keluarga kamu yang masih penasaran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU