Potret dari pesisir Kota Manado (Peter Kambey (Pexel))
Sulawesi Utara - Kota Manado, adalah permata bagi bumi nyiur melambai. Indozone, nama kota ini pasti sudah tidak asing untuk beberapa telingga bukan? Menjadi salah satu kota yang bertumbuh pesat selama beberapa tahun terakhir, pada tahun ini, tepatnya pada tahun 2026, Kota Manado merayakan hari ulang tahunnya yang ke-403. Tentunya 403 bukan hanya berbincang soal pencapaian usia maupun deretan angka.
403 adalah angka yang jadi saksi bisu dari perjalanan epik sebuah Kota melintasi empat abad. Nyatanya, Kota Manado hampir telah melihat segalanya. Jadi, dalam merayakan ulang tahun Kota Manado yang ke-403 ini, bagaimana kalau ikuti petualangan Indozone mendalami sejarah panjang Kota Manado, permata bumi nyiur melambai?
Potret dari bendera merah putih yang dipegang oleh seseorang (Irginurfadil (Pexel))
Setiap tanggal 14 juli, Kota Manado merayakan peringatan ulang tahun mereka dengan jalanan kota yang dengan semarak perayaan, ornamen budaya, dan aroma masakan khas yang menggugah selera. Tanggal 14 Juli ini, menghantarkan kita menuju awal tahun 1623 dimana tanggal ini ditetapkan sebagai HUT Kota Manado dari tiga peristiwa penting yang menjadi identitas Kota Manado, yakni:
Di tahun ini, kata "Manado" muncul pertama kali, dan tercatat dalam sebuah dokumen resmi dalam bentuk sebuah surat oleh seorang gubernur VOC.
Siapa? Temui Gubernur Jenderal VOC, Pieter de Carpentier. Saat sedang tengah memimpin kongsi dangan Hindia, saat itu VOC di bawah pimpinan Pieter tengah mengebu-ngebu memperkuat kekuasaan monopoli rempah mereka di Maluku. Namun, Pieter menyadari, bahwa mereka memerlukan benteng dan lumbung logistik yang menampung semua hasil rempah-rempah di pulau Sulawesi, terutama bagian utara karena berdekatan dengan pulau Maluku.
Pieter lantas segera menulis sebuah laporan kepada dewan direksi VOC di Belanda. Ia menyebut tempat strategis lumbung logistik sebagai "Manado", dan posisi lokasi ini yang dapat menguntungkan Belanda. Kata Manado ini sendiri, datang dari penduduk lokal di tanah Minahasa yang memanggil Manado dengan nama lain, Manarou I Mina Roko dengan arti Pulau di tengah laut. Sekarang, Manarou I Mina Roko kita kenali sebagai Manado tua. Namun namanya, di implementasi di ibu Kota Sulawesi Utara.
Menurut catatan sejarah, Kota Manado yang sekarang sendiri dikenal sebagai Wenang di zaman dahulu. Kemudian nama Manaraou I Mina Roko atau Manado, diberikan pada Kota Manado yang sekarang oleh Pieter de Carpentier, menggeser nama Wenang, lewat surat-surat, serta pos perdangan resmi dan dikenali oleh Eropa.
Sama seperti dahulu, Wenang yang saat ini menjadi salah satu kecamatan Kota Manado, merupakan wilayah dimana pusat pemerintahan terjadi.
Tanggal 14 peristiwa heroik yang tak terlupakan pada tahun 1946, yakni Peristiwa Merah Putih. Di hari yang penuh sejarah ini, delapan puluh tahun yang lalu, ketika dunia sedang merayakan hari kasih sayang tepatnya pada tanggal 14 februari, putra-putra Minahasa bangkit merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan mengibarkan sang saka Merah Putih di tanah Minahasa.
Peristiwa bersejarah ini, menjadi simbol semangat perjuangan yang selanjutnya diadopsi oleh Kota Manado sebagai tanggal dari kemenangan mereka pula.
Untuk rincian bulan juli sendiri, HUT Kota Manado diadakan di bulan ini sebagai sebuah rujukan terhadap Belsuit atau surat keputusan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang kala itu menetapkan Kota Manado sebagai Gemeente pertama, atau wilaya otonomi pertama yang dapat menguurus pemerintahan, serta keperluan administratif mereka sendiri, tanpa perlu komando dari pemerintah pusat.
Potret dari sebuah kawasan perdagangan dan jasa di Indonesia (Ghantenk (Pexel))
Jauh sebelum bangsa Eropa menjejakkan kaki dan membangun benteng pertahanan di Provinsi Sulawesi Utara, dahulu Kota Manado merupakan daratan utama bernama "Wenang." Nama itu berubah, ketika pada abad ke-16, Bangsa Portugis dan Spanyol datang menginjakkan kaki karena rempa-rempah di perairan Sulawesi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan