Sabtu, 18 JULI 2026 • 16:53 WIB

Asal-Usul, dan Sejarah Lengkap 403 Tahun Kota Manado

Author

Potret dari pesisir Kota Manado (Peter Kambey (Pexel))

Sulawesi Utara - Kota Manado, adalah permata bagi  bumi nyiur melambai. Indozone, nama kota ini pasti sudah tidak asing untuk beberapa telingga bukan? Menjadi salah satu kota yang bertumbuh pesat selama beberapa tahun terakhir, pada tahun ini, tepatnya pada tahun 2026, Kota Manado merayakan hari ulang tahunnya yang ke-403. Tentunya 403 bukan hanya berbincang soal pencapaian usia maupun deretan angka.

403 adalah angka yang jadi  saksi bisu dari perjalanan epik sebuah Kota melintasi empat abad. Nyatanya, Kota Manado hampir telah melihat segalanya. Jadi, dalam merayakan ulang tahun Kota Manado yang ke-403 ini, bagaimana kalau ikuti petualangan Indozone mendalami sejarah panjang Kota Manado, permata bumi nyiur melambai?

Hari Perayaan Ulang Tahun Kota Manado

Potret dari bendera merah putih yang dipegang oleh seseorang (Irginurfadil (Pexel))

Setiap tanggal 14 juli, Kota Manado merayakan peringatan ulang tahun mereka dengan jalanan kota yang dengan semarak perayaan, ornamen budaya, dan aroma masakan khas yang menggugah selera. Tanggal 14 Juli ini, menghantarkan kita menuju awal tahun 1623 dimana tanggal ini ditetapkan sebagai HUT Kota Manado dari tiga peristiwa penting yang menjadi identitas Kota Manado, yakni:

1. Tahun 1623

Di tahun ini, kata "Manado" muncul pertama kali, dan tercatat dalam sebuah dokumen resmi dalam bentuk sebuah surat oleh seorang gubernur VOC.

Siapa? Temui Gubernur Jenderal VOC, Pieter de Carpentier. Saat sedang tengah memimpin kongsi dangan Hindia, saat itu VOC di bawah pimpinan Pieter tengah mengebu-ngebu memperkuat kekuasaan monopoli rempah mereka di Maluku. Namun, Pieter menyadari, bahwa mereka memerlukan benteng dan lumbung logistik yang menampung semua hasil rempah-rempah di pulau Sulawesi, terutama bagian utara karena berdekatan dengan pulau Maluku.

Pieter lantas segera menulis sebuah laporan kepada dewan direksi VOC di Belanda. Ia menyebut tempat strategis lumbung logistik sebagai "Manado", dan posisi lokasi ini yang dapat menguntungkan Belanda. Kata Manado ini sendiri, datang dari penduduk lokal di tanah Minahasa yang memanggil Manado dengan nama lain, Manarou I Mina Roko dengan arti Pulau di tengah laut. Sekarang, Manarou I Mina Roko kita kenali sebagai Manado tua. Namun namanya, di implementasi di ibu Kota Sulawesi Utara.

Menurut catatan sejarah, Kota Manado yang sekarang sendiri dikenal sebagai Wenang di zaman dahulu. Kemudian nama Manaraou I Mina Roko atau Manado, diberikan pada Kota Manado yang sekarang oleh Pieter de Carpentier, menggeser nama Wenang, lewat surat-surat, serta pos perdangan resmi dan dikenali oleh Eropa.

Sama seperti dahulu, Wenang yang saat ini menjadi salah satu kecamatan Kota Manado, merupakan wilayah dimana pusat pemerintahan terjadi.

2. Tanggal 14

Tanggal 14 peristiwa heroik yang tak terlupakan pada tahun 1946, yakni Peristiwa Merah Putih. Di hari yang penuh sejarah ini, delapan puluh tahun yang lalu, ketika dunia sedang merayakan hari kasih sayang tepatnya pada tanggal 14 februari, putra-putra Minahasa bangkit merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan mengibarkan sang saka Merah Putih di tanah Minahasa.

Peristiwa bersejarah ini, menjadi simbol semangat perjuangan yang selanjutnya diadopsi oleh Kota Manado sebagai tanggal dari kemenangan mereka pula.

3. Bulan Juli

Untuk rincian bulan juli sendiri, HUT Kota Manado diadakan di bulan ini sebagai sebuah rujukan terhadap Belsuit atau surat keputusan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang kala itu menetapkan Kota Manado sebagai Gemeente pertama, atau wilaya otonomi pertama yang dapat menguurus pemerintahan, serta keperluan administratif mereka sendiri, tanpa perlu komando dari pemerintah pusat.

Era Kolonial dan Wajah Cantik Kota Manado

Potret dari sebuah kawasan perdagangan dan jasa di Indonesia (Ghantenk (Pexel))

Jauh sebelum bangsa Eropa menjejakkan kaki dan membangun benteng pertahanan di Provinsi Sulawesi Utara, dahulu Kota Manado merupakan daratan utama bernama "Wenang." Nama itu berubah, ketika pada abad ke-16, Bangsa Portugis dan Spanyol datang menginjakkan kaki karena rempa-rempah di perairan Sulawesi.

Portugis dan Spanyol mendiami Wenang cukup lama, hingga meninggalkan jejak tak terhapuskan seperti bahasa, budaya hingga agama. 

Meski demikian, roda kekuasaan terus berputar. Memasuki abad ke-17, Vereenigde Oostindische Compagnie yang kita kenali sebagai VOC pun ikut mendiami wenang. Di bawah Gubernur VOC inilah, nama Wenang perlahan-lahan tergantikan menjadi Manado, lewat surat-surat dan pengakuan resmi dari tanah Belanda.

Selama ratusan tahun di bawah naungan kolonial Belanda, Manado berkembang dari sekadar pos perdagangan menjadi pusat pemerintahan yang terorganisasi. Letaknya yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik menjadikannya pelabuhan yang sibuk. Kopi, kopra, dan cengkeh menjadi komoditas emas yang terus mengalir keluar dari tanah Minahasa, memakmurkan para penguasa kolonial dan memicu modernisasi kota.

Kemudian, pada abad ke-20, tepatnya melalui surat keputusan tanggal 1 Juli 1919, Manado resmi menjadi wilayah otonomi administratif pertama, dan dipimpin oleh seorang Wali Kota. Status terbaru dari Kota Manado ini, kala itu rupa-rupanya membawa sisi positif untuk bagian pembagunan.

Jalan-jalan mulai diaspal, gedung-gedung bergaya arsitektur Eropa klasik dibangun dan fasilitas pendidikan bermunculan. Kala itu, Kota Manado menjadi sebuah kota yang rapi, terpelajar, bahkan sampai dijuluki "Provinsi Ke-12 Belanda".

Sayang, keelokan Kota Manado ini tidak berlangsung lama, ketika pada ahun 1942, bala tentara Kekaisaran Jepang mendarat di pesisir Manado. Periode pendudukan ini membawa penderitaan yang luar biasa. Kota yang tadinya cantik ini luluh lantak akibat pemboman, baik saat invasi awal Jepang maupun saat serangan balasan oleh tentara Sekutu menjelang akhir perang pada 1945. Bangunan bersejarah hancur, ekonomi lumpuh, dan masyarakat hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kelaparan.

Masa Kemerdekaan, dan Semangat Membangun Kota Manado Menjadi Baru

Potret dari bendera Merah Putih yang diikatkan pada sebuah tiang (Fikri Harsyah (Pexel))

Saat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, kabar itu tidak langsung sampai ke telinga warga di ujung utara Sulawesi akibat blokade informasi yang ketat.

Saat itu, tentara Jepang menyerah. Mereka perlahan-lahan menyerahkan diri dan angkat kaki, namun Sekutu Belanda, mereka masuk kembali untuk mengambil posisi kosong penjajah di Kta Manado. Terdorong atas keinginan untuk merdeka dan bebas dari genggaman bangsa-bangsa asing, pada tanggal 14 Februari 1946, masyarakat Kota Manado melakukan sebuah gebrakan yang selanjutnya kita kenali sebagai "Peristiwa Merah Putih."

Dipimpin oleh tokoh-tokoh militer lokal dari kesatuan KNIL yang bersimpati pada Republik seperti Ch. Taulu dan S.D. Wuisan serta tokoh sipil legendaris Bernard Wilhelm Lapian, perjuangan masyarakat Kota Manado terjadi di beberapa daerah Provinsi Sulawesi Utara. terlebih di Kota Manado. 

Peristiwa ini dimenangkan oleh masyarakat Kota Manado yang ditandai dengan momen penurunan bendera triwarna Belanda, yang kemudian dirobek bagian birunya untuk pengibaran Merah Putih di puncak sebuah bangunan.  Selama kurang lebih sebulan, kekuasaan penuh di wilayah tersebut berada di tangan rakya

Kemudian, B.W. Lapian diangkat sebagai Kepala Pemerintahan Sipil Republik Indonesia di Sulawesi Utara. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia secara penuh pada tahun 1949, Manado memasuki babak baru yang tak kalah menantang. Berstatus sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kota ini harus membangun kembali infrastruktur yang hancur lebur akibat perang, sembari mencari bentuk identitas barunya.

Selama beberapa tahun, ketidakpuasan daerah terhadap ketimpangan pembangunan oleh pemerintah pusat melahirkan gerakan Permesta, dan Kota Manado merpakan basis utama pergolakan ini. Hingga akhirnya, pada awal dekade 60-an, Manado dengan cepat membalut lukanya dengan adanya rekonsiliasi.

Pada tahun 1964, dengan dibentuknya Provinsi Sulawesi Utara secara resmi, Manado lantas ditunjuk sebagai ibu kota provinsi, sehingga, tata kota ini kembali ditata rapi dan diobati.

Wajah Baru Kota Manado Hari ini

Potret dari jembatan Soekarno, Kota Manado (Gerasimos Kechagias (Pexel))

Kini, pada tahun 2026, 14 Juli kemarin, Kota Manado secara resmi berusia 403 tahun dan menjadi sebuah kota yang tetap berdiri gagah sebagai sebuah metropolis pesisir. Siapapun yang ada di Kota Manado, disambut dengan penuh welcome.

Sebagai kota pelabuhan modern yang memposisikan dirinya sebagai "Gerbang Pasifik", Manado dihadapkan pada tuntutan untuk menyelaraskan pembangunan infrastruktur ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Pemerintah kota terus melakukan pembenahan, mengintegrasikan wisata bahari dengan pesona dataran tinggi di sekitarnya. Pengunjung kini bisa menikmati matahari terbit di atas kapal di sekitar Manado Tua, atau malamnya berbelanja di pusat perbelanjaang seperti Mantos dan Megamas.

Ini menjadikan, perayaan HUT ke-403 Kota Manado sebagai sebuah cermin dan pengingat bahwa ota ini dibangun dari keringat para nelayan Wenang, strategi diplomasi para Tonaas, tumpahan darah para pejuang Merah Putih, dan kerja keras warga modernnya.

Dirgahayu Kota Manado! Semoga kamu menemukan artikel ini bermanfaat ya, Indozone. Kira-kira, apa kamu punya pengalaman manis di kota ini? Coba komen ke bawah. Pack your bag and get your ticket. Jangan mau ketinggalan kemeriahan di Kota Manado. Sampe Bakudapa Ulang!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU