Ilustrasi dari potret serang gadis di bawah rembulan (Thanh Tam (Unsplash))
Sulawesi Utara - Sulawesi Utara bukan hanya dikenal lewat laut biru, kuliner khas yang kaya rempah, atau panorama pegunungannya yang memikat. Di balik bentang alamnya yang indah, daerah ini juga menyimpan banyak cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Dari tanah Minahasa hingga wilayah kepulauan, kisah-kisah lama itu terus hidup melalui tradisi lisan, buku bacaan daerah, hingga cerita yang masih sering dibagikan di tengah keluarga.
Salah satu cerita rakyat Sulawesi Utara yang masih dikenal hingga sekarang adalah Keke Panagian. Bagi masyarakat Minahasa, kisah ini bukan sekadar dongeng lama sebelum tidur. Ada nilai budaya, hubungan keluarga, dan pesan tentang kehidupan yang terasa relevan bahkan hingga hari ini. Buat stop nunda-nunda rasa penasaran para pembaca setia Indozone, ini cerita lengkap Keke Panagian yang sudah dirangkum oleh Indozone.
Lahir dari sepasang suami istri di Desa Wanua Uner, orang tua Keke Panangian adalah Pontohroring dan Mamalauan. Semenejak awal pernikahan mereka, Pontohroring dan Mamalauan telah lama menantikan kehadiran seorang anak. Namun, belasan sampai puluhan tahun, keduanya tidak kunjung dikarunai oleh anak.
Suatu ketika, Pontohroring mendengar kabar dari desa seberang, apabila seorang dukun sakti di sana dapat mengabulkan permintaan mereka, apapun itu, bahkan salah seorang anak. Pontohroring, lantas bergegas, dia dan istrinya meminta berkat, dan tidak lama kemudian, Mamalauan mengandung.
Sang dukun menegaskan, anak di kandungan Mamalauan harus dilindungi dan dicintai. Dan sama seperti namanya yang berati kasih sayang, Keke Panagian lahir menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga itu.
Keke merupakan seorang anak yang baik hati, lembut, dermawan dan cantik. Ia menjadi permata untuk teman-teman serta warga di kampungnya. Sehingga tumbuh dewasa, Pontohroring dan Mamalauan mulai dilingkupi rasa takut dan kekhawatiran berlebih terhadap Keke, sehingga banyak hal yang dilarang untuk dilakukan putri semata wayang mereka.
Suatu waktu, sebuah pesta meriah di kampung mereka diadakan. Di pesta ini, ada tarian yang telah lama Keke lakukan secara diam-diam, ketika mengetahui penyelengaraan pesta, bergegaslah Keke untuk meminta izin kepada orang tuanya yang lantas ditolak mentah. Pontohroring dan Mamalauan menolak permintaan Keke untuk diizinkan ke pesta ini dikarenakan takut akan bahaya yang akan mengincar keke kala malam hari. Kamar Keke bahkan dikunci, sehingga dalam perasaan sedih dan penuh putus asa, Keke berdoa pada rembulan.
Berlinangkan air mata, Keke mendadak dikejutkan oleh cahaya rembulan yang datang membuatkan jalan untuk Keke menuju ke lapangan kampung yang jadi tempat pesta. Saat tengah berjalan di atas jalan cahaya rembulan, tiba-tiba ada sebuah suara yang mengingatkan pada Keke untuk pulang sebelum tengah malam.
Dan setibanya Keke di lapangan, berdansalah maengket dia bersama teman-temannya hingga waktu berlarut dengan cepat. Sayang, tenggelam dalam kegembiraan membuat Keke melupakan waktu, sehingga lewatlah tengah malam. Dengan rasa takut dan sedih, Keke bergegas untuk kembali ke rumah hanya untuk menemukan Pontohroring dan Mamalauan yang mengunci pintu dikarenakan merasa kecewa oleh anak semata wayang mereka.
Keke meraung-raung dan mencoba minta pengampunan kepada kedua orang tuanya karena telah mengecewakan mereka. Akan tetapi, Pontohroring dan Mamalauan yang terlanjur sedih menolak untuk membukakan pintu rumah bagi Keke.
Dengan penuh perasaan sedih, Keke kembali ke lapangan kampung dimana sebelumnya dia berdansa. Sambil berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tiba-tiba cahaya rembulan turun dan membentuk tangga bagi Keke. Terkejut, Keke mendengar suara bisikan yang mengajak Keke untuk pulang lewat tangga itu.
Pontohroring dan Mamalauan beserta warga kampung yang sebelumnya mengikuti Keke, mengaung-ngaung mencoba untuk menghentikan Keke dan mengajaknya untuk turun. Akan tetapi, semenjak hari tersebut, Keke tidak tampak lagi, dan Pontohroring dan Mamalauan menangis tersedu-sedu menyesali sikap mereka pada sang anak semata wayang.
Melalui kisah Keke Panagian, masyarakat diajak untuk memahami arti komunikasi, pengertian, dan kebijaksanaan dalam keluarga.
Cerita rakyat asal Minahasa ini bukan hanya menjadi warisan budaya Sulawesi Utara, tetapi juga mengandung pesan moral yang masih relevan hingga sekarang, terutama tentang pentingnya saling mendengarkan antara orang tua dan anak agar hubungan keluarga tetap harmonis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan