Ilustrasi dari potret dua orang yang tengah berjabatan tangan (Malcolm Brostrom (Unsplash))
Sulawesi Utara - Pergantian tahun memang identik dengan pesta kembang api, panggung hiburan, dan hitung mundur di pusat kota. Akan tetapi buat masyarakat Sulawesi Utara. ada sebuah tradisi unik dan tersendiri bagi mereka untuk menyambut datangnya tahun baru.
Di sejumlah wilayah, terutama yang memiliki akar budaya Minahasa kuat, pergantian tahun tidak hanya dirayakan dengan suasana meriah, tetapi juga diisi dengan tradisi seperti adat Mekiwuka.
Di balik iringan musik dan suasana akrab antarwarga, Mekiwuka menyimpan cerita panjang tentang identitas budaya Sulawesi Utara yang unik dan terus bertahan di tengah derasnya era digitalisasi. Mau tau tentang adat Mekiwuka lebih lanjut? Yuk, ikuti penjelajahan Indozone.
Mekiwuka dikenal sebagai salah satu tradisi masyarakat Minahasa yang dilakukan menjelang pergantian tahun. Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat, perlindungan, dan perjalanan selama satu tahun yang telah dilalui, sekaligus doa dan harapan untuk memasuki tahun yang baru.
Oleh hal ini, umumnya Mekiwuka diadakan pada tanggal 31 Desember hingga memasuki dini hari 1 Januari. Pada perayaanya, masyarakat yang menjalankan tradisi ini justru bergerak dari rumah ke rumah, saling berjabat tangan, menyampaikan ucapan selamat tahun baru, bernyanyi bersama, dan mempererat silaturahmi.
Nah, berdasarkan catatan sejarah, Mekiwuka pertama kali dikenali oleh Suku Borgo yang merupakan suku etnis hasil asimilasi perkawinan antara masyarakat asli Minahasa dengan para penjelajah Eropa. Lahir dan dewasa dari bimbingan orang tua yang besar di negeri matahari, pada natal dan tahun baru anak-anak dari Suku Borgo akan mengunjungi sanak saudara dan tetangga mereka untuk bersilahturami. Sebuah kebiasaan dari keluarga Eropa, kala merakayakan natal dan tahun baru.
Kata "Meki" disini berati permohonan, sementara "Wuka" artinya membuka. Jadi, secara harfiah, Mekiwuka dapat diartikan sebagai ritual "Memohon untuk dibukakan" yang dalam hal ini, maksudnya adalah meminta maaf untuk segala kesalahan kita di tahun lampau kepada sesama.
Kalau Indozone ke Sulawesi Utara pada tanggal 31 Desember - 1 Januari, jangan terkejut kalau melihat orang-orang yang saling tidak mengenal bersalaman di jalan. Ini adalah salah satu bentuk dari Mekiwuka, yang perlahan-lahan menjadi sifat dan gaya hidup masyarakat Minahasa.
Mekiwuka berlangsung dalam suasana yang dinamis sekaligus penuh nuansa kebersamaan. Ketika lonceng gereja mulai berdentang menandai pergantian tahun, masyarakat akan keluar dari rumah masing-masing dan berkumpul di depan halaman atau sepanjang jalan kampung.
Dalam momen itu, warga saling menghampiri untuk berjabat tangan, berpelukan, dan mengucapkan selamat Natal maupun tahun baru. Tidak ada batas antara satu rumah dan rumah lainnya. Semua orang larut dalam suasana hangat yang terasa akrab, seolah seluruh kampung berubah menjadi satu ruang perayaan bersama. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria, para orang tua berdiri di teras rumah menyambut tamu yang datang, sementara suara tawa dan ucapan selamat terdengar bersahut-sahutan hingga larut malam. Pergantian tahun tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang sepanjang tahun.
Dalam suasana seperti itu, hubungan antartetangga terasa jauh lebih dekat. Tetangga tidak lagi dipandang sekadar orang yang tinggal bersebelahan, melainkan menjadi bagian dari keluarga besar yang saling mengenal dan saling menjaga. Jalan kampung yang sehari-hari dilalui sebagai ruang aktivitas biasa berubah menjadi ruang silaturahmi terbuka yang penuh kehangatan.
Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas masing-masing memiliki kesempatan untuk bertemu kembali, bertukar cerita, dan saling menyampaikan harapan baik untuk tahun yang akan datang. Kehangatan itulah yang membuat Mekiwuka terasa istimewa.
Jika dilihat dari perspektif psikologis dan sosiologis, Upacara Adat Mekiwuka memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat keharmonisan sosial masyarakat.
Kehadiran tradisi seperti Mekiwuka memberikan ruang bagi masyarakat untuk merasa diterima, didengar, dan menjadi bagian dari lingkungan sosial yang lebih besar. Hal-hal sederhana seperti menyapa tetangga atau bertukar ucapan selamat ternyata memiliki dampak emosional yang besar, terutama dalam menciptakan rasa aman dan kenyamanan psikologis di tengah masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan