Potret dari sebuah dokumentasi dari sebuah grup yang tengah memainkan Kolintang (Wikipedia)
Sulawesi Utara - Temui Kolintang, alat musik tradisional lainnya yang datang dari Sulawesi Utara, yang terbuat dari bongkahan kayu. Musik Kolintang telah dikenal berpuluh-puluh tahun dan tetap dilestarikan keberadannya.
Nama Kolintang, diambil dari bunyi alat musik ini yang memiliki suara “ting” untuk nada tinggi, dan “tang” untuk suara rendah dan tengah.
Berdasarkan cerita lama masyarakat, Kolintang merupakan alat musik yang digunakan seorang pemuda bernama Makasiga yang handal dalam mengukir untuk melamar seorang gadis dengan nama Lintang yang dapat bernyanyi dengan sangat baik dan memikat burung-burung serta ikan di danau Tondano.
Kolintang merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari serangkaian kayu dan disusun di atas sebuah rak. Semakin panjang dari kayu yang dipakai, semakin tinggi nada yang dihasilkannya ketika diketuk, begitu pun sebaliknya. Kolitang dimainkan dengan cara diketuk, atau dipukul dengan sebuah stik sehingga dapat menghasilkan nada yang merdu.
Kolintang biasanya dapat ditemukan dalam sebuah orkesta, dimana sebuah kelompok akan memainkan kolitang dengan susunan nada yang dapat menyerupai paduan suara seperti: Tenor, bass, sopran dan alto. Tentu saja mereka juga dapat mengiringi acara musik lainnya, termasuk nyanyian. Namun tidak jarang orang menikmati musik kolintang ini sendirian saja.
Telah diwariskan secara turun temurun, alat musik khas dan warisan budaya orang Minahasa ini sekarang dapat ditemui di acara tari tradisional dan acara-acara serta penyambutan tamu. Di beberapa gereja yang ada di Minahasa dan Kota Manado bahkan membawakan Kolintang di tengah sesi ibadah untuk mengiringi puji-pujian atau nyanyian para umat.
Sampe Bakudapa Ulang!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan