Potret dari sebuah patung Hati Kudus Yesus (Jonathan Osfs (Unsplash))
Sulawesi Utara - Hidup di tengah masyarakat modern abad ke-21 sering kali terasa seperti berada di dalam arena kompetisi yang tidak pernah usai. Indozone, pernah kah kamu merasa bahwa setiap harinya dituntut menjadi individu dengan pribadi yang tangguh, kompetitif, dan tidak boleh terlihat lemah? Pastinya, ini melelahkan ya. Apalagi, kalau ada yang memilih buat memperparah situasi kamu dan bawaannya pengen marah-marah.
Pada hari ini, Senin (15/06/2026), Gereja Katolik memasuki Hari Biasa dalam Pekan Biasa XI. Melalui panduan liturgi kudus hari ini, seluruh umat diajak untuk merenungkan sabda Yesus saat memberikan khotba terkait caranya memaafkan sesama kita, dan menjadi pribadi lebih baik tanpa dendam.
Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
Renungan harian kita pada hari ini, Senin 15 Juni 2026, mengajak umat untuk kembali merenungkan makna kasih yang sejati melalui bacaan Injil Matius 5:38-42.
Dalam bacaan hari ini, Yesus menyampaikan sebuah ajaran yang tidak selalu mudah untuk dilakukan, bahkan dapat terasa bertentangan dengan naluri manusia pada umumnya. Yesus berbicara tentang bagaimana seseorang harus menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan, ketidakadilan, penghinaan, maupun tindakan yang melukai hati, bukan dengan kebencian dan keinginan untuk membalas, melainkan dengan kasih dan pengampunan.
Ajaran Yesus dalam Injil hari ini membawa umat kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai arti menjadi pengikut-Nya. Kasih yang diajarkan Yesus bukan hanya tentang mencintai orang-orang yang baik kepada kita, melainkan juga tentang bagaimana tetap menjaga hati ketika berhadapan dengan orang atau keadaan yang membuat kita terluka.
Pesan Yesus bukanlah ajakan untuk menjadi pribadi yang lemah atau membiarkan diri terus-menerus diperlakukan tidak adil tanpa batas. Sebaliknya, Yesus mengundang setiap orang beriman untuk memiliki hati yang lebih luas, yaitu hati yang tidak mudah dikendalikan oleh amarah, dendam, dan keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.
Sebab, terkadang luka terbesar dalam kehidupan bukan hanya berasal dari tindakan orang lain, tetapi juga dari beban yang terus kita simpan dalam hati. Kemarahan yang dipelihara terlalu lama dapat membuat seseorang kehilangan kedamaian, bahkan ketika masalah yang terjadi sebenarnya sudah berlalu.
Dalam Injil Matius 5:38-42, Yesus mengutip hukum yang dikenal oleh masyarakat pada masa itu, yaitu prinsip “mata ganti mata dan gigi ganti gigi”. Prinsip tersebut pada awalnya dibuat untuk membatasi tindakan pembalasan agar seseorang tidak memberikan hukuman yang jauh lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan.
Namun, Yesus menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam. Ia tidak hanya berbicara mengenai aturan dalam menghadapi orang lain, tetapi juga menyentuh kondisi hati manusia. Yesus mengajak umat untuk tidak terjebak dalam siklus balas dendam yang hanya akan memperpanjang luka dan menciptakan lebih banyak penderitaan.
Ketika Yesus berkata agar umat tidak melawan orang yang berbuat jahat dan memberikan lebih daripada yang dituntut, Ia sedang mengajarkan sebuah bentuk kasih yang melampaui batas manusiawi. Tentu, ajaran ini bukan berarti seseorang harus menerima perlakuan buruk tanpa batas atau tidak boleh mempertahankan kebenaran.
Yesus tidak mengajarkan manusia untuk kehilangan harga diri. Namun, Yesus mengingatkan bahwa cara seseorang merespons kejahatan akan menentukan apakah dirinya ikut memperbesar luka atau menjadi jalan bagi terciptanya perdamaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia bereaksi berdasarkan emosi pertama yang muncul. Ketika disakiti, kita ingin segera membalas. Ketika disalahpahami, kita ingin segera menjelaskan. Ketika merasa dirugikan, kita ingin menunjukkan bahwa kita juga mampu melawan.
Namun, Injil hari ini mengajak umat untuk belajar memberikan ruang antara perasaan dan tindakan. Terkadang, mengambil waktu sejenak untuk diam, berdoa, dan merenungkan keadaan dapat membantu seseorang melihat persoalan dengan lebih jernih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan