Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 13 JUNI 2026 • 07:17 WIB

Bacaan Injil, Serta Renungan Harian Umat Katolik Sabtu 13 Juni

Bacaan Injil, Serta Renungan Harian Umat Katolik Sabtu 13 JuniPotret dari patung Bunda Maria bersama Kanak-kanak Yesus (Jonathan Osfs (Unsplash))

Sulawesi Utara - Pada hari ini, secara khusus umat Katolik di seluruh dunia, termasuk di keuskupan-keuskupan indah di Sulawesi Utara, diajak untuk merayakan sebuah momentum rohani, yaitu Peringatan Wajib Hati Tersuci Santa Perawan Maria pada Sabtu (13/06).

Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat, sebagai manusia, kita sering kali terbiasa mencari jawaban secara instan. Banyak orang ingin segera memahami alasan di balik setiap kejadian, baik dalam kebahagiaan maupun kesulitan. Namun, melalui teladan Maria, umat Katolik diajak untuk belajar memiliki ruang hening dalam hati agar mampu mendengarkan suara Tuhan. Pada peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria hari ini, sebagai umat Katolik kita diajak melihat kembali teladan Bunda Maria.

Bacaan Injil (Lukas 2:41-51, Tb.) 

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.

Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.

Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: ”Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: ”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.


Renungan Sabtu, 13 Juni 2026

 
Peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk mengenang dan meneladani kehidupan Bunda Maria. Hati Maria menggambarkan pribadi yang sepenuhnya terbuka kepada Allah, penuh kasih, serta memiliki kesetiaan yang tidak tergoyahkan. Melalui perjalanan hidupnya, Maria menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan berarti seseorang akan terbebas dari persoalan, melainkan memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap keadaan dengan iman dan harapan.

Maria bukanlah seseorang yang terbebas dari kesulitan hidup. Sejak awal panggilannya sebagai ibu Yesus, Maria sudah menghadapi berbagai tantangan. Ia harus menerima kabar besar dari malaikat, menghadapi kebingungan Yusuf, melahirkan Yesus dalam kesederhanaan, hingga menyaksikan penderitaan Putranya di kayu salib. Setiap peristiwa tersebut tentu membawa pergumulan tersendiri bagi Maria sebagai seorang manusia dan seorang ibu.

Namun, di balik berbagai tantangan yang dihadapinya, Maria tetap menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa. Ia tidak membiarkan rasa takut, keraguan, maupun kesedihan menjauhkan dirinya dari kehendak Allah. Maria memilih untuk percaya, meskipun tidak semua hal dapat langsung dipahami dengan pikirannya. Sikap inilah yang menjadikan Maria sebagai teladan iman bagi umat Katolik di seluruh dunia.

Kisah dalam Injil Lukas 2:41-51 memperlihatkan sisi manusiawi Maria sebagai seorang ibu. Dalam perjalanan pulang dari Yerusalem setelah merayakan Paskah, Maria dan Yusuf menyadari bahwa Yesus tidak bersama mereka. Sebagai orang tua, mereka tentu merasa cemas dan khawatir. Mereka kemudian kembali mencari Yesus hingga akhirnya menemukan-Nya berada di Bait Allah, sedang berbicara dengan para ahli agama.

Bagi Maria, perkataan Yesus tentu bukan sesuatu yang langsung mudah dipahami. Akan tetapi, Maria memilih untuk menerima dan menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Maksud dari "menyimpan semua perkara di dalam hati" adalah sebuah proses kontemplasi yang mendalam, yaitu sikap batin seseorang yang tidak terburu-buru memberikan penilaian, melainkan mengambil waktu untuk memahami kehendak Allah melalui setiap peristiwa yang terjadi.

Maria menyediakan ruang di dalam batinnya yang paling suci dan tak bernoda untuk menampung ketidakpahaman, kecemasan, dan misteri kehidupan tersebut, sembari percaya penuh bahwa rencana Allah pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan. Ia tidak memaksakan agar semua jawaban hadir saat itu juga, tetapi menyerahkan setiap pertanyaan kepada Tuhan melalui iman dan kepercayaannya.

Sikap Maria menjadi pelajaran penting bagi umat beriman. Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak langsung dapat dipahami manusia. Ada doa yang membutuhkan waktu untuk dijawab, ada harapan yang harus diperjuangkan dengan kesabaran, dan ada rencana Tuhan yang baru dimengerti setelah seseorang melewati berbagai proses kehidupan. Melalui Maria, umat diajak untuk percaya bahwa Tuhan selalu bekerja, bahkan dalam situasi yang belum dapat dimengerti sepenuhnya.

Perlu kita sadari bahwa kehidupan manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Ada kalanya seseorang mengalami kehilangan, kegagalan, perubahan, atau situasi yang membuat hati bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Dalam kondisi seperti itu, manusia sering kali merasa gelisah dan mencari alasan mengapa sebuah peristiwa harus dialami.

Pengalaman Maria ketika mencari Yesus yang hilang menjadi gambaran bahwa rasa cemas dan takut merupakan bagian dari perjalanan manusia. Maria pun pernah merasakan kegelisahan sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya. Namun, ia tidak membiarkan rasa takut menguasai hatinya. Ia tetap berusaha mencari, berharap, dan percaya bahwa Tuhan memiliki maksud yang baik di balik setiap kejadian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bacaan Injil, Serta Renungan Harian Umat Katolik Sabtu 13 Juni

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!