Potret dari seekor Tarsius yang tengah terlelap di atas batang pohon (SJ (Unsplash))
Sulawesi Utara - Tarsius adalah salah satu hewan endemik yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Terancam punah, Tarsius merupakan hewan berbulu kecil dengan mata bulat yang hinggap dari pohon ke pohon lainnya. Telah lama menjadi salah satu wajah dari Bumi Nyiur, pastinya bukan rahasia lagi jika hewan kecil yang satu ini menjadi salah satu magnet wisatawan lokal maupun macan negara.
Terkhusus kamu yang berencana buat habisin waktu kamu dengan melihat keimutan Tarsius, berikut adalah tiga lokasi tepat dan terbaik buat melihat secara langsung Tarsius di Provinisi Sulawesi Utara.
Taman Nasional Tangkoko adalah destinasi paling legendaris di ujung utara Sulut. Berada di wilayah administratif Kota Bitung, kawasan konservasi seluas lebih dari 3.100 hektare ini merupakan rumah terbesar dan paling aman bagi populasi Tarsius di dunia.
Secara bentuk, Taman Nasional Tangkoko merupakan sebuah ruangan luas terbuka yang sangat dramatis dan sinematik, di mana vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah tumbuh subur menyelimuti lereng Gunung Tangkoko dan Gunung Dua Saudara.
Menjadi rumah dari pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar membentuk gua-gua alami, Tarsius mendirikan koloni dan menghabiskan siang hari mereka dengan tidur di dalam celah batang pohon.
Karena Tarsius adalah hewan nokturnal, waktu terbaik untuk memulai penjelajahan adalah saat senja mulai turun, sekitar pukul 16.30 WITA. Khawatir dengan lingkungan sekitar menjadi sepi? Kamu dapat meminta bantuan dari Ranger atau pemandu lokal yang berpengalaman supaya tidak tersesat dan dapat menikmati momen kami di Taman Nasional Tangkoko sepenuhnya.
Apabila Matahari mulai terbenam, satu per satu Tarsius bakalan mengeluarkan kepala mereka dari celah pohon beringin, mengeluarkan suara cicitan yang khas sebagai penanda komunikasi antarkeluarga sebelum mereka melompat lincah dari satu dahan ke dahan lain untuk berburu serangga.
Taman Nasional Tangkoko kala malam hari, bakalan dipenuhi dengan atraksi penampakan unik dari Tarsius tersebut.
Untuk yang mau mengajak keluarga atau kolega dalam liburan penu edukasi, maka Taman Wisata alam atau TWA Batu Putih merupakan pilihan yang paling tepat buat kamu.
Nah, ada yang unik dari lokasi Taman Wisata Batu Alam, Secara geografis, TWA Batu Putih sebenarnya berada dalam satu hamparan ekosistem dengan cagar alam Tangkoko, namun areanya dikelola secara khusus untuk kepentingan wisata alam yang lebih kasual dan ramah untuk berbagai usia.
Kelebihan utama dari TWA Batu Putih adalah aksesibilitas jalurnya yang relatif lebih landai dan teratur dibandingkan dengan area inti taman nasional. Tempat ini sangat cocok bagi para wisatawan lokal maupu macanegara pemula yang ingin mengenalkan keindahan satwa endemik kepada anak-anak tanpa harus menembus medan hutan yang terlalu ekstrem.
Jika Taman Nasional Tangkoko identik dengan luas kawasan hutan, maka buat yang kepengen cari tempat aesthehtic di tengah alam dan bersantai bakalan menyukai TWA Batu Putih dengan kehadiran berbagai homestay di lokasi ini yang dikelolah oleh masyarakat lokal.
Dengan ini, ngak perlu ribet-ribet buat nungguin Tarsius keluar dari tempatnya di tengah hutan. Kamu dapat menikmati pemandangan TWA Batu Putih homestay kamu, sambil menunggu Tarsius.
Kalau yang satu ini, adalah sebuah lokasi eksluksif, mewah, namun tetap unik dikarenakan letaknya yang menolak buat jadi mainstream, dan terletak di tengah rimbun hutan. Temui, Kawasan Mangrove Grand Luley.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan