Ilustrasi dari sebuah wisata hutan mangrove (Freepik)
Sulawesi Utara - Di tengah desakan modernisasi, kesadaran akan pentingnya ekowisata semakin meningkat. Salah satu destinasi yang berhasil menggabungkan konservasi dengan pengalaman wisata yang menenangkan adalah Wisata Mangrove Desa Kulu. Terletak di kawasan pesisir yang asri, kecamatan Wori, destinasi ini menawarkan pelarian sempurna bagi mereka yang ingin kembali terhubung dengan alam dan menyaksikan keajaiban ekosistem mangrove yang vital.
Wisata Mangrove Desa Kulu tidak hanya menawarkan pemandangan indah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan konservasi. Pengunjung disambut dengan jembatan kayu (boardwalk) yang membentang panjang, menembus rimbunnya hutan bakau. Boardwalk ini tidak hanya memudahkan akses, tetapi juga menciptakan jalur photogenic yang ikonik, menjadikannya latar belakang sempurna bagi para content creator dan pecinta fotografi alam.
Ekosistem mangrove yang sehat di Desa Kulu menjadi habitat ideal bagi berbagai jenis satwa, sehingga di kawasan ini kolabotasi tempat berlindung dan mencari makan bagi beragam jenis kepiting, ikan kecil, dan tentu saja, burung-burung pesisir terjadi.
Salah satu aktivitas yang paling diminati adalah menyusuri sungai dengan perahu atau kano kecil. Pengalaman meluncur perlahan di antara akar-akar bakau yang menjulang (prop roots) memberikan perspektif berbeda tentang keindahan hutan ini. : Waktu terbaik untuk mengunjungi Mangrove Kulu adalah saat sore menjelang senja. Saat golden hour, cahaya matahari yang menembus celah-celah daun mangrove menciptakan efek dramatis yang memukau.
Bagi pengunjung, disarankan mengenakan pakaian yang nyaman dan melindungi dari gigitan serangga. Yang terpenting, selalu patuhi etika ekowisata: jangan merusak tanaman mangrove, jangan membuang sampah, dan hormati satwa liar di habitatnya.
Sampe Bakudapa Ulang!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan