Potret pulau Manado Tua dari perairan (Ronny Buol (Pexel))
Sulawesi Utara - Siapa sih yang ngak kenal Kota Manado? Jadi tanah kelahiran dari berbagai tokoh-tokoh gemilang di Indonesia, iIbu kota Sulawesi Utara yang baru saja merayakan usianya yang ke-403 pada 14 Juli 2026 lalu ini, memiliki jiwa yang terlalu besar untuk sekadar didefinisikan oleh batas administratif pada peta.
Supaya dapat mengenali Kota Manado, pastinya kita perlu tau mengenai identitasnya yang perlapis-lapis. Selain sejarah, julukan pun menjadi identitas dari sebuah kota. Maka daripada itu, julukan Kota Manado ada banyak lho, Indozone. Dan julukan-julan ini, bukan cuman sembarang label buat promosi wisata atau branding semata. Penasaran dengan julukan-julukan Kota Manado? Ayo ikuti Indozone membedah lima julukan ikonik Kota Manado~
Potret dari pesisir sebuah pantai dengan pohon kelapa (Tom Fisk (Pexel))
Orang Manado, pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat "nyiur melambai." Kalimat ini, biasanya dipakai oleh orang-orang, buat mendeskripsikan keindahan Kota Manado secara keseluruhan. Memang, nama ini cantik dan enak didengar. Namun, tahukah kamu Indozone? Julukan ini, ada nilai historisnya!
Pada era kolonial Belanda hingga beberapa dekade, perkebunan kelapa adalah tulang punggung perekonomian masyarakat Sulawesi Utara. Kelapa diolah menjadi kopra, kemudian daging buah kelapanya dikeringkan untuk diekspor ke berbagai belahan dunia sebagai bahan baku minyak nabati dan kosmetik.
Saat itu, Manado merupakan sebuah kota dimana pelabuhan berada. Di pelabuhan inilah kapal-kapal besardari Eropa bersandar untuk mengangkut berton-ton kopra yang dihasilkan oleh para petani dari berbagai pelosok Minahasa, dan oleh karena pemandangan pohon-pohon kelapa tersebut, para pelaut dari timur dan barat mengingat Manado sebagai tempat dimana pohon kelapa melambai-lambai.
Julukan Bumi Nyiur Melambai secara harfiah, mendeskripsikan kondisi geografis pesisir Manado dan wilayah Minahasa sekitarnya yang sejak zaman dahulu dipenuhi oleh rimbunnya pohon kelapa. Jadi ketika angin bertiup, dedaunan pohon kelapa tampak menari-nari, dan menciptakan suasana yang nyiur.
Bahkan walaupun sudah menjadi sebuah kota, kalau Indozone mendatangi pesisir pantai nantinya pasti Indozone akan disambut oleh barisan pohon kelapa yang menari-nari ditiup angin laut dari Teluk Manado. Karena pemandangan ini begitu cantik dan dijamin membawa ketenangan bagi siapapun saja yang melihatnya, maka istilah "nyiur melambai" lahir sebagai mahkota yang disematkan langsung untuk Kota Manado.
Potret dari dua pria yang saling menyapa (Irwan Zahuri (Pexel))
Indozone, pernah gak sih liat rumah makan bernama "Kawanua" yang ada di luar Sulawesi Utara? Nah, hanya dengan nama ini, kamu bisa langsung tau kalau rumah makan itu adalah rumah makan khas Sulawesi Utara.
Secara harfiah, kata Kawanua berasal dari bahasa daerah Minahasa. Kata ini terbentuk dari dua akar kata: Kawan yang berarti teman, atau kerabat, dan Wanua yang berarti negeri, desa, atau wilayah tempat tinggal. Mula-mulanya, istilah ini digunakan oleh leluhur orang-orang Minahasa di masa lampau untuk menyapa sesama penduduk yang berasal dari satu kampung atau satu wilayah yang sama.
Menurut kepercayaan orang-orang, Kawanua dipakai oleh para leluhur ketika mereka bertemu di jalan atau di pasar sebagai bentuk pengakuan bahwa 'kita adalah saudara dari tempat yang sama.'
Hingga kini, kata Kawanua masih menjadi kata bentuk sapaan di luar tanah Minahasa. Jadi, jangan heran kalau kamu nanti melihat sesama orang Manado yang tengah merantau di luar daerah memanggil teman mereka dengan sebutan Kawanua. Sama seperti kota-nya, semboyan legendaris dari Provinsi Sulawesi Utara saja berjudul Torang Samua Besaudara.
Ilustrasi dari potret sup jagung dan labu (She Eats (Pexel))
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan