Ilustrasi dari potret bambu yang tengah dibakar (Freepik)
Sulawesi Utara - Indozone, kalau kamu datang dan berkenjung di Sulawesi Utara, terutama saat perayaan besar seperti Hari Raya Keagamaan, Pengucapan Syukur hingga acara pernikahan, ada satu pemandangan yang takkan terlewatkan. Aroma harum santan yang beradu dengan jahe dan daun pisang terbakar segera menyergap indra penciuman. Itulah proses pembuatan Nasi Jaha atau sering disebut dengan nama Nasi Jahe. Makanan primadona yang menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan masyarakat Bumi Nyiur Melambai.
Bukan cuman sekedar makanan pengganjal lapar. Kudapan berbahan dasar beras ketan ini wajib hukumnya hadir dalam setiap momen syukuran. Penasaran bagaimana Nasi Jaha sebagai identitas budaya yang tetap kokoh di tengah gempuran kuliner modern di Sulawesi Utara? Ayo,ayo,ayo, berikut liputan Indozone dalam menggali rasa di tanah Toar-Lumimuut.
"Nasi Jaha" sendiri berasal dari dua kata: Nasi dan Jahe. Sesuai namanya, jahe adalah kunci utama yang memberikan sensasi unik di tenggorokan sekaligus aroma yang menggoda di hidung. Yang membuat kuliner ini unik adalah metode memasaknya yang masih tradisional, yakni menggunakan media bambu sebagai oven alami.
Kenapa bambu? Bambu memberikan aroma khas. Selain itu, bagian dalam bambu yang dilapisi daun pisang mempunyai panas merata, sehingga beras ketan akan matang dengan tekstur yang pulen dan sempurna di bagian dalam namun sedikit garing di bagian luar.
Bahan Utama:
Bumbu Halus:
Cara Pembuatan:
Jadi, saat kamu nantinya berkunjung ke Sulawesi Utara di masa depan, pastikan aroma bambu terbakar ini memandu kamu ya Indzone. Menuju pengalaman rasa yang tak terlupakan dan melampauinya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan