Jumat, 31 OKTOBER 2025 • 23:11 WIB

Kartini Minahasa, Maria Walanda Maramis: Wanita Kuat yang Mendobrak Keterbatasan Kaum Wanita Minahasa

Author

Potret Ibu Maria Walanda Maramis (Dinas Kebudayaan Sulawesi Utara)

Sulawesi Utara - Maria Walanda Maramis, lahir di sebuah desa kecil yang ada di Kabupaten Minahasa Utara pada bulan desember menjadi obor dengan nyala di ujung Timur Nusantara, Sulawesi Utara. Maria Walanda Maramis bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan ikon lifestyle yang menuntut perempuan pada awal abad ke-20 memiliki kesadaran, keterampilan, dan peran aktif di ruang publik.

Lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis pada 1 Desember 1872 di Kema, kehidupan Maria sejak dini dipenuhi tantangan. Ia kehilangan kedua orang tuanya saat usia enam tahun dan dibesarkan oleh pamannya. Meskipun Maria sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Melayu, pendidikan formal bagi perempuan pribumi pada masa itu sangat terbatas, hanya dianggap cukup untuk bekal mengurus rumah tangga. 

Ia menyaksikan bagaimana ketidaksetaraan dalam mengakses pendidikan menjadi belenggu yang membatasi potensi kaum perempuan dan Maria, dengan berani menolak mentah-mentah pandangan adat yang mendikte bahwa tempat seorang wanita hanya di dapur dan sumur. 

Maria mulai mengasah pemikirannya melalui tulisan. Ia aktif menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan melalui surat kabar lokal, Tjahaja Siang. Tulisannya tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga menyoroti peran ibu yang cerdas dalam membentuk masa depan anak dan keluarga. Maria mendirikan organisasi perempuan pertama di Minahasa pada 8 Juli 1917, yang dinamakan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Nama yang indah dan mendalam ini menunjukkan visi Maria: mencintai anak harus diwujudkan dengan mempersiapkan ibu yang terdidik.

Melalui PIKAT, Maria memperjuangkan hak perempuan untuk berpartisipasi dalam pemilihan anggota Minahasa Raad (Dewan Minahasa), sebuah badan perwakilan daerah yang dibentuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Perjuangan Maria, sampai hingga ke Batavia dan membuahkan hasil luar biasa. Pada tahun 1921, Pemerintah Belanda akhirnya mengizinkan perempuan untuk memberikan suara dalam pemilihan anggota Minahasa Raad. Sebuah kemenangan monumental yang menempatkan Maria sebagai salah satu tokoh emansipasi politik perempuan di Indonesia, jauh sebelum hak pilih perempuan menjadi universal.

Maria Walanda Maramis, dianugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional pada 20 Mei 1969 dan berhasil dalam mendefinisikan ulang gaya hidup perempuan Minahasa: berakar pada tradisi namun berwawasan maju, menjunjung spiritualitas namun penuh dengan kebranian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU