Sabtu, 07 FEBRUARI 2026 • 22:14 WIB

Gereja Watumea, Gereja TERTUA di Minahasa

Author

Tangkapan layar dari street view Gereja Galilea Watumea sebagai gereja paling tua di Sulawesi Utara (Google maps)

Sulawesi Utara -  Provinsi sejuta gereja. Mereka bilang, segala arah yang ada di Sulawesi Utara terdapat pemandangan salib, beserta sebuah gereja. Untuk sebuah provinsi dengan dominasi masyarakat memeluk agama kepercayaan Kristen, hal ini merupakan hal yang rumlah di Sulawesi Utara. Namun, di antara sejuta gereja yang berada di Sulawesi Utara, kali ini Indozone akan membahas sebuah gereja sederhana yang terletak di Kabupaten Minahasa yang dikenali sebagai Gereja Watumea.

Mengenal Gereja Watumea

Gereja Watumea merupakan salah satu protestan yang terletak di Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa. Gereja ini, merupakan bagian dari Gereja Masehi Injili Minahasa atau biasa disingkat dengan nama GMIM, dan dibangun pada tahun 1860-an. Gereja Watumea adalah saksi bisu dari perkembangan dan penyebaran kepercayaan Kristen Protestan oleh bangsa Belanda di tanah Minahasa. Hingga saat ini, Gereja Watumea masih berdiri kokoh dengan kisah-kisah antara manusia dan kepercayaannya di dalamnya. Hampir 22 tahun yang lalu, Gereja Watumea ditetapkan sebaagai situs cagar budaya, beberapa aspek fisik yang menjadi ciri khas dari gereja ini tetap dijaga agar nilai sejarahnya sebagai gereja tertua di Sulawesi Utara.

Sejarah di Balik Gereja Watumea

Pada tahun 1830-an, mayoritas masyarakat yang ada di Tondano telah memeluk agama Kristen dan telah dibaptis oleh beberapa sosok pendeta yang datang dari Belanda.Lantas, Keluarga Hukum Tua Supit Watumewa, dan Hessel Rooker, seorang pendeta lainnya yang datang untuk melayani di Tondano menyadari bahwa kebutuhan untuk kehadiran dari gereja adalah yang penting dan kebutuhan bagi para umat kristen, maka, pembangunan gereja pertama di Sulawesi Utara pun dimulai. Dirancang langsung oleh Pendeta Hessel Rocker, akhirnya setelah beberapa waktu, akhirnya mimpi masyarakat kristen akan kehadiran dari rumah ibadah terwujud.

Sebuah bangunan gereja yang terletak di pinggir Danau Tondano, dengan bahan utama kayu akhirnya terciptakan, dan akhirnya kita kenali dengan nama Gereja Galilea Watumea atau Gereja Watumewa.

Arsitektur Gereja Watumea

Penetapan dari Gereja Watumea sebagai situs cagar budaya, menjadikan segala bentuk pembangunan yang merubah struktur atau menghilangkan keunikan-keunikan di dalamnya diilegalkan. Meski demikian, tindakan revitalisasi serta pemugaran tetap dilakukan.

Saat ini, jika kamu mengunjungi Watumea, Gereja Watumea berdiri paling mencolok dikarenakan memiliki nuansa kolonial klasik, dan gereja-gereja lama yang ada di Eropa.

Bangunan dari Gereja Watumea ini berukuran  20×12 m dan memiliki bahan utama dari kayu. Di dalam gereja ini, terdapat 140 kursi kayu untuk jemaat yang merupakan bagian dari dalam gereja sejak awal. Tidak hanya kursi kayu, lampu gantung, ornamen kaca dan lonceng yang ada di gereja ini merupakan bagian-bagian dari Gereja Watumea sejak awal pembangunan yang tetap dirawat. 

Masyarakat setempat hingga saat ini masih menggunakan bangunan Gereja Watumea untuk berbagai aktivitas sekaligus ibadah setiap minggunya, menandakan kepercayaan yang turun temurun kepaa setiap generasi baru umat Kristen Protestan dalam menjaga warisan budaya dan sejarah yang jadi identitas mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU