Minggu, 19 JULI 2026 • 14:12 WIB

Jarang Orang Tau! Ternyata, Ini Dia Julukan Dari Kota Manado

Author

Potret pulau Manado Tua dari perairan (Ronny Buol (Pexel))

Sulawesi Utara - Siapa sih yang ngak kenal Kota Manado? Jadi tanah kelahiran dari berbagai tokoh-tokoh gemilang di Indonesia, iIbu kota Sulawesi Utara yang baru saja merayakan usianya yang ke-403 pada 14 Juli 2026 lalu ini, memiliki jiwa yang terlalu besar untuk sekadar didefinisikan oleh batas administratif pada peta. 

Supaya dapat mengenali Kota Manado, pastinya kita perlu tau mengenai identitasnya yang perlapis-lapis. Selain sejarah, julukan pun menjadi identitas dari sebuah kota. Maka daripada itu, julukan Kota Manado ada banyak lho, Indozone. Dan julukan-julan ini, bukan cuman sembarang label buat promosi wisata atau branding semata. Penasaran dengan julukan-julukan Kota Manado? Ayo ikuti Indozone membedah lima julukan ikonik Kota Manado~

1. Kota Nyiur Melambai

Potret dari pesisir sebuah pantai dengan pohon kelapa (Tom Fisk (Pexel))

Orang Manado, pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat "nyiur melambai." Kalimat ini, biasanya dipakai oleh orang-orang, buat mendeskripsikan keindahan Kota Manado secara keseluruhan. Memang, nama ini cantik dan enak didengar. Namun, tahukah kamu Indozone? Julukan ini, ada nilai historisnya!

Pada era kolonial Belanda hingga beberapa dekade, perkebunan kelapa adalah tulang punggung perekonomian masyarakat Sulawesi Utara. Kelapa diolah menjadi kopra, kemudian daging buah kelapanya dikeringkan untuk diekspor ke berbagai belahan dunia sebagai bahan baku minyak nabati dan kosmetik.

Saat itu, Manado merupakan sebuah kota dimana pelabuhan berada. Di pelabuhan inilah kapal-kapal besardari Eropa bersandar untuk mengangkut berton-ton kopra yang dihasilkan oleh para petani dari berbagai pelosok Minahasa, dan oleh karena pemandangan pohon-pohon kelapa tersebut, para pelaut dari timur dan barat mengingat Manado sebagai tempat dimana pohon kelapa melambai-lambai.

Julukan Bumi Nyiur Melambai secara harfiah, mendeskripsikan kondisi geografis pesisir Manado dan wilayah Minahasa sekitarnya yang sejak zaman dahulu dipenuhi oleh rimbunnya pohon kelapa. Jadi ketika angin bertiup, dedaunan pohon kelapa tampak menari-nari, dan menciptakan suasana yang nyiur. 

Bahkan walaupun sudah menjadi sebuah kota, kalau Indozone mendatangi pesisir pantai nantinya pasti Indozone akan disambut oleh barisan pohon kelapa yang menari-nari ditiup angin laut dari Teluk Manado. Karena pemandangan ini begitu cantik dan dijamin membawa ketenangan bagi siapapun saja yang melihatnya, maka istilah "nyiur melambai" lahir sebagai mahkota yang disematkan langsung untuk Kota Manado.

2. Kota Kawanua

Potret dari dua pria yang saling menyapa (Irwan Zahuri (Pexel))

Indozone, pernah gak sih liat rumah makan bernama "Kawanua" yang ada di luar Sulawesi Utara? Nah, hanya dengan nama ini, kamu bisa langsung tau kalau rumah makan itu adalah rumah makan khas Sulawesi Utara.

Secara harfiah, kata Kawanua berasal dari bahasa daerah Minahasa. Kata ini terbentuk dari dua akar kata: Kawan yang berarti teman, atau kerabat, dan Wanua yang berarti negeri, desa, atau wilayah tempat tinggal. Mula-mulanya, istilah ini digunakan oleh leluhur orang-orang Minahasa di masa lampau untuk menyapa sesama penduduk yang berasal dari satu kampung atau satu wilayah yang sama.

Menurut kepercayaan orang-orang, Kawanua dipakai oleh para leluhur ketika mereka bertemu di jalan atau di pasar sebagai bentuk pengakuan bahwa 'kita adalah saudara dari tempat yang sama.'

Hingga kini, kata Kawanua masih menjadi kata bentuk sapaan di luar tanah Minahasa. Jadi, jangan heran kalau kamu nanti melihat sesama orang Manado yang tengah merantau di luar daerah memanggil teman mereka dengan sebutan Kawanua. Sama seperti kota-nya, semboyan legendaris dari Provinsi Sulawesi Utara saja berjudul Torang Samua Besaudara.

3. Kota Tinutuan

Ilustrasi dari potret sup jagung dan labu (She Eats (Pexel))

Belum afdol kalau kita berbicara Kota Manado, tanpa sedikit pun menyinggung kulinernya. 

Tinutuan atau yang sering dikenal sebagai Bubur Manado, adalah hidangan yang dengan lantang menegaskan Manado sebagai diplomasi kuliner dari Provinsi Sulawesi Utara. Mengapa nama makanan sampai dijadikan julukan kota?

Pertama, Tinutuan adalah simbol kesetaraan dan kebersamaan. Di Manado, Tinnutuan leh semua kalangan tanpa memandang status sosial, jabatan, atau latar belakang ekonomi. Dari pejabat tinggi daerah, pengusaha sukses, hingga masyarakat pekerja biasa, semuanya bisa duduk berdampingan dan memakan makanan ini, dari satu kuali yang sama.

Kedua, proses pembuatan Tinutuan mencerminkan kehidupan masyarakat Kota Manado. Bahan-bahannya yang berbeda bentuk, warna, hingga rasa, dalam suatu kuali besar melebur menciptakan harmoni untuk perut. Sebagai sebuah kota dimana masyarakatnya hidup dalam harmoni terlepas dari perbedaan suku dan agama, Tinutuan menjadi metafora yang paling tepat.

4. Kota Sejuta Gereja

Potret dari gerbang sebuah gereja (mtolentino (Pexel))

Kalau kamu sedang terbang ke Kota Manado, dari atas udara kamu bakal melihat pucuk-pucuk menara gereja yang tak terhitung jumlahnya, lengkap dengan ornamen salib di puncaknya. Pemandangan visual inilah yang melahirkan julukan Kota Seribu Gereja.

Julukan ini lahir dari fakta demografis dan historis. Karena pengaruh penjajahan bangsa Eropa, hampir 75% umat beragama di Kota Manado adalah umat beragama Kristen Protestan, dan Kristen Katolik. Bagaimana bisa? Julukan Kota Manado sebagai Kota Seribu Gereja dimulai dengan abad ke-16 dimana para misionaris dari Eropa, seperti Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz datang dan membawa ajaran Kekristenan, kemudian mendirikan sistem pendidikan bagi penduduk pribumi.

Kedatangan dari ajaran Kristen berpadu pendidikan ini lah yang lantas membuat gereja-gereja mulai dibangun oleh masyarakat, dan seperti gereja-gereja yang ada di Eropa, gereja yang dibangun oleh masyarakat ini memiliki style dan arsitektur seperti di Eropa, lengkap dengan salib suci di atapnya. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak gereja-gereja kristen di Kota Manado yang mulai melakukan "pemekaran" dikarenakan bertambahnya umat dalam jumlah yang sangat banyak. 

Pembangunan-pembangunan dari gereja inilah, yang lantas menjadikan Kota Manado sebagai Kota Sejuta Gereja, dan masih akan bertambah beberapa lagi, hingga beberapa tahun ke depan.

5. Kota Garis Biru

Potret Kota Manado dari langit (Ronny Buol (Pexel))

Dari semua julukan yang ada, Kota Garis Biru mungkin jadi julukan paling kece dan modern untuk Kota Manado. Untuk julukan Kota Manado yang satu ini, dia lahir dari konstelasi geografis Kota Manado, dikarenakan memanjang mengikuti garis tepi pantai teluk pantai.

Dalam perencanaan tata ruang konsep ini disebut sebagai Waterfront City, dengan wajah Kota Manado menghadap ke laut. Tahukah kamu? Pesisir Kota Manado hampir mencapai lebih dari 18 kilometer dengan kawasan-kawasannya yangn membentang dari Malalayang di ujung selatan, melintasi Boulevard sampai ke kawasan wisata internasional Tongkaina.

Dahulunya, garis pantai Kota Manado mengalami transformasi reklamasi yang masif. Garis pantai yang awalnya dipenuhi dengan pelabuhan-pelabuhan mini para nelayan, berganti menjadi deretan pusat perbelanjaan megah, hotel-hotel berbintang, dan kawasan bisnis. Menariknya, perubahan ini menjadikan identitas Kota Manado sebagai Kota Garis Biru menjadi lebih bersinar.

Dengan masyarakat-masyarakat lokalnya yang mengurus garis pesisir ini, banyak wisatawan lokal serta macan negara yang datang ke Kota Manado untuk menikmati perpaduan kota yang ada, dengan biru lautan sebagai batasnya.

Sekarang, kamu sudah tahu julukan-julukan dari Kota Manado. Nah, Indozone. Apa ada julukan lain dari ibu kota Provinsi Sulawesi Utara ini? Coba komen di bawah julukan Kota Manado lainnya yang kamu ketahui, ya. Jangan lupa untuk save and share artikel ini ke teman-teman kamu buat nambah wawasan. Jadi, tunggu apalagi, segera atur perjalanan kamu ke Provinsi Sulawesi Utara, dan kunjungi Kota Manado. Jangan sampai mau ketinggalan!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU