Sabtu, 25 JULI 2026 • 15:32 WIB

Kapan Pengucapan Minahasa 2026?

Author

Potret dari masakan bambu yang tengah dibakar (Mohamad Ikhwan (Pexel))

Sulawesi Utara - Untuk orang Sulut, yang namanya pengucapan adalah event tahunan ditunggu-tunggu. Cuma di waktu ini, mereka yang jadi sanak saudara kita bakal rela-rela untuk menempuh perjalanan jauh agar dapat berkumpul dengan kita. Di tahun 2026 ini, beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Utara secara resmi telah melaksanakan penguncapan untuk tahun 2026, akan tetapi, bagaimana dengan Kabupaten Minahasa?

Kapan Pengucapan Kab.Minahasa 2026

Dodol, dan nasi jaha adalah makanan khas dari pengucapan. Jadi, tidak heran apabila waktu ini adalah waktu yang paling diantisipasi. Nah, beruntungnya, Pemerintah Kabupaten Minahasa telah secara resmi mengeluarkan surat edaran terkait waktu untuk pengucapan di tahun 2026 ini, yang nantinya akan jatuh pada besok hari, Minggu 26 Juli 2026. 

Berdasarkan pantauan dari Indozone, menanggapi hal ini, beberapa lokasi pasar dipenuhi dengan masyarakat yang berbelanja untuk menyiapkan masakan-masakan yang akan disajikan pada besok hari. Salah satu pembeli yang kami wawancarai, Meity (48) masyarakat Desa Tompaso mengungkapkan, "Kalau yang namanya pengucapan harus berbelanja banyak begini. Nanti sanak saudara dari jauh kami datang ke rumah. Kalau pulang, selain perut mereka merasa kenyang, tangan mereka juga harus bawa makanan untuk disantap kalau sudah sampai di rumah." Ujarnya.

Memangnya apa pengucapan itu?

Sejarah Dibalik Pengucapan

Nama dari pengucapan kala itu adalah Foso Rumages, Kata Foso berarti ritual, dan Rumages atau Rumege berarti memberi persembahan Berdasarkan catatan sejarah, Pengucapan merupakan sebuah tradisi yang datang dari leluhur masyarakat Minahasa. Pada kala itu, para tetua adat akan merayakan sebuah acara tahunan sebagai bentuk persembahan kepada Yang Maha Esa untuk hasil panen pertanian mereka yang berjalan lancar. Acara tahunan ini, biasanya dirayakan oleh satu kampung dan dapat berjalan selama berhari-hari. Masyarakat akan melakukan tarian, mereka akan bernyanyi, dan memasak bersama-sama. Nah, karena alasan inilah biasanya pengucapan dirayakan pasca pertengahan tahun, yang kita ketahui sebagai waktu dari para petani melakukan panen atas hasil pertanian mereka dalam kurun waktu selama satu setengah tahun. 

Dalam Foso Rumages, makanan bambu yang dimasak beramai-ramai itu kelak menjadi bentuk tanda hormat kepada leluhur dan sang pencipta.

Ketika bangsa Eropa tiba dan penyebaran agama Kristen mulai di Sulawesi Utara, pengucapan secara perlahan-lahan mulai bergeser dalam arti. Karena pemujaan pada leluhur dianggap bertentangan dengan iman Kristen, maka pengucapan lantas menjadi ibadah syukur di gereja-gereja yang ditutup dengan acara makan bersama di akhir. 

Meski demikian, hingga kini makna dan arti dari pengucapan masih sama seperti tradisi para leluhur, serta kepercayaan setiap orang. 

Arti dan Makna Pengucapan

Pengucapan merupakan sebuah tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan di beberapa wilayah Provinsi Sulawesi Utara, tidak terkecuali: Kota Manado, Tomohon, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara dan Minahasa. Sama seperti namanya, pengucapan merupakan sebuah tradisi yang melambangka rasa terima kasih masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk bantuannya sehingga panen dapat dilakukan.

Dalam pengucapan, makanan-makanan tradisional seperti nasi jahe dan dodol merupakan dua sajian makanan yang wajib untuk hadir di atas meja dan ditawarkan kepada tamu. Kedua masakan ini melambangkan wujud syukur, sehingga biasanya menjadi cendramata yang diberikan kepada para tamu untuk dibawa pulang ke rumah mereka. Jadi, jangan heran ya Indozone ketika acara pengucapan tiba dan kamu menemukan kemacetan dimana-mana. Selain bersilahturami, nasi jahe dan dodol ini juga menjadi incaran dari berbagai orang.

Fun fact, karena kemacetan yang sering terjadi ketika pengucapan, masyarakat di beberapa wilayah terkadang turun ke jalan untuk menawarkan nasi jahe, dodol beserta air kepada para penggendara yang terjebak macet. Tidak jarang bahkan, mereka akan mengajak kamu mampir ke rumah untuk makan lho! Tradisi dari masyarakat Provinsi Sulawesi Utara inilah yang menjadi bukti sebagai keramah teramahan masyarakat. Untuk kamu yang bertanya kenapa hal ini dilakukan, nah, alasannya simpel.

Tanda syukur dan terima kasih masyarakat Sulawesi Utara, salah satunya adalah dengan cara berbagi kepada sesama kita, terutama mereka yang membutuhkan.

Jadi, itu dia informasi kapan, arti dan sejarah di balik hari raya pengucapan masyarakat Minahasa. Indozone, jangan sampai ketinggalan dan selamat berpengucapan ya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU