Ilustrasi tangan seseorang di balik pagar besi (Freepik)
Sulawesi Utara - Kasus kematian dari seorang mahasiswi PGSD UNIMA menyita perhatian dari publik. Pasalnya, kasus kematian ini tidak sekedar berakhir di penemuan jenazah saja melainkan menjadi dobrakan baru untuk membuka kebusukan dan kejelekan dari seorang oknum dosen yang mengajar di UNIMA.
Sebut saja DM, merupakan terduga pelaku dari tindakan pelecehan seksual kepada mahasiswa dengan nama Evia pada bulan desember kemarin. Melalui kematian Evia, tindakan bejat DM tersebar dengan surat pernyataan yang ditinggalkan Evia sebagai laporannya kepada pihak kampus.
DM yang merupakan tenaga pengajar di fakultas FIPP ini diduga sempat terlibat dengan kasus yang sama belasan tahun yang lalu namun belum pernah mendapatkan penindakan sehingga masih berkeliaran dengan bebas dan memangsa mahasiswa-mahasiswa baru. Kematian Evia, diduga berakar dari tindakan bejat DM ini sehingga menciptakan polemik di tengah-tengah masyarakat.
Usai ada pengautopsian serta kehadiran dari dua sosok saksi yang baru, misteri kematian Evia perlahan-lahan mulai terungkap. Melalui kuasa hukum keluarga, Niczem Alfa Wengen, salah seorang saksi memberikan keterangan mengenai beberapa jam sebelum penemuan jenazah Evia, DM sempat menjemputnya dari kost dan menghantarnya ke area pemakaman dimana dia mencoba melakukan tindakan pelecehan lainnya kepada korban. Kepada pihak kepolisian, saksi mengaku mengetahui hal ini usai menemukan korban menangis saat memasuki area kost.
Saksi memberikan keterangan, melihat situasi itu ia segera bertanya pada korban mengenai apa yang terjadi yang mana ia balas dengan kronologi penjemputan paksa dosen tersebut dan niat jahatnya. Pelaku diduga menghantarkan balik korban di ujung lorong kostnya lalu pergi meninggalkan korban yang menangis tersendu-sendu.
Dalam keterangan saksi tersebut, ia mengaku merasa khawatir karena selain melihat situasi Evia, dia juga melihat luka-luka di kaki korban.
Saat ini pendalaman dari kasus kematian Evia tengah dilaksanakan, dengan bantuan dari rekan-rekan sesama mahasiswanya, kematian Evia kini perlahan-lahan mulai mencapai titik terang, sehingga masyarakat menuntut adanya penindakan segera dari aparat berkewajiban
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan