Sulawesi Utara – Bencana ekologis yang terjadi di pulau Sumatera akhirnya mengungkap kebenaran jelek, betapa rusak dan hancurnya hutan Sumatera. Dengan kegiatan pembalakan liar yang tiada henti, serta pembukaan lahan perkebunan sawit, spons alami tanah yang jadi faktor utama dalam pendukung pencegahan longsor dan banjir akhirnya sirna.
Tidak sedikit orang yang menyoroti fakta ini, sehingga akhirnya publik dibukakan matanya terkait isu menipisnya pepohonan di hutan-hutan Indonesia. Chanee Kalaweit, di antara sorotan itu sempat mengegerkan masyarakat dengan pengakuannya tentang aksi konservasi yang ia lakukan selama bertahun-tahun, sempat dapat tekanan dan larangan dari Kemenhut. Sehingga akhirnya orang-orang bertanya, siapa Chanee Kalaweit?
Chanee Kalaweit lahir di Perancis, dan telah berusia 46 tahun. Kecintaannya pada hewan, membawa Chanee untuk tinggal di Indonesia mulai tahun 1998, dan menetap di Kalimantan. Disana, ia mendirikan Yayasan Kalaweit, sebuah yayasan yang didedikasikan untuk melindugi hewan-hewan yang mulai kehilangan tempat tinggalnya di hutan. Chanee aktif dalam melakukan penggalangan dana untuk rehabilitasi satwa liar. Tidak cukup melakukan hal tersebut, ia aktif dalam melawan penebangan liar serta perdagangan hewan ilegal.
Sudah lebih dari 27 tahun Chanee dan organisasinya ini bekerja dibawah terjangan orang rakus yang ingin menghilangkan kecantikan alam. Aksinya yang luhur serta keberaniannya menjadikan Chanee sebagai sosok yang sekarang dikagumi di kaum anak muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kalaweit