Sulawesi Utara - Kasus pelecehan seksual di tingkat pendidikan tertinggi, yakni lingkungan kampus atau universtas semakin marak terjadi. Mahasiswa, para pelajar yang harusnya menggali ilmu untuk menggapai mimpi tidak jarang terjaring aksi bejat dari orang-orang kepercayaan mereka, tak terkecuali tenaga pengajar.
Sebuah kasus yang baru-baru ini terjadi menimpa seorang mahasiswi asal Kecamatan Siau Timur menggemparkan publik. AEM (22) diduga menjadi korban tindakan pelecehan seksual oleh oknum salah satu dosen di Universitas Negeri Manado dan mengajar di FIPP program studi PGSD.
Melalui surat pernyataan yang menjadi saksi ketakutan serta kekahwatiran AEM, tindakan keji oknum pelaku sebagai seorang dosen terungkap. Lewat tiga lembar yang ia gunakan untuk menuliskan kegelisahan serta tekanan yang dialaminya, AEM menunjukan surat pernyataan itu kepada pihak Dekan FIPP dan berharap akan adanya penindakan tegas agar tidak ada terjadinya kasus yang berulang. Sayang, belum melihat hal itu terjadi, AEM memilih mengakhiri hidupnya setelah didera dengan depresi dari kejadian traumatis yang dialaminya. Dan untuk menuntut hal tersebut, serta sebagai aksi belasungkawa, pihak Keluarga Mahasiswa Katolik Unima melakukan aksi 1000 Lilin yang digelar pada Selas (30/12) pukul 22.00 WITA kemarin di depan lobi FIPP. Aksi ini diikuti oleh puluhan mahasiswa serta khalayak umum. Seraya mendoakan kedamaian bagi AEM, mereka menyalakan lilin di depan lobi FIPP sebagai nyala perjuangan mahasiswa UNIMA untuk menuntut keadilan bagi rekan serta teman mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan