Ilustrasi dari potret ladang sawah dari atas langit (Freepik)
Sulawesi Utara - Bagi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya etnis Minahasa, musik bukan sekadar rangkaian nada yang menghibur telinga. Musik adalah pengikat memori, penjaga identitas, dan media penyampai kerinduan yang paling jujur.
"Oh Minahasa". bukan hanya sekadar lagu daerah biasa. Ia adalah himne tidak resmi bagi para perantau, sebuah ode bagi keindahan alam, dan refleksi gaya hidup masyarakatnya yang sangat mencintai tanah kelahirannya. Baik dinyanyikan dalam iringan musik kolintang yang berdenting nyaring maupun dalam paduan suara yang megah.
Di balik liriknya yang puitis, lagu "Oh Minahasa" juga menyiratkan semangat filosofis sang tokoh pembaru, Sam Ratulangi, yakni "Si Tou Timou Tumou Tou" (Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain). Tanah Minahasa digambarkan sebagai tempat yang damai, tempat di mana persaudaraan dijunjung tinggi, dan tamu disambut dengan tangan terbuka. Meskipun liriknya berbicara tentang satu wilayah spesifik, pesan tentang rasa syukur atas tanah air adalah pesan universal yang bisa dirasakan oleh siapa pun. Hal ini menjadikan "Oh Minahasa" sebagai alat diplomasi budaya yang sangat efektif saat dipentaskan di kancah internasional.
Oh Minahasa tempat lahirku
Sungguh bangga rasa hatiku
Memandang keindahanmu
Namamu masyur di Nusantara
Karna cengkeh pala dan kopra
Kagumkan pasaran dunia
Danau Tondano dan sawah ladangmu
Asap Lokon Soputan menghiasi alammu
Oh.... tempat lahirku Minahasa
Semoga aman dan sentosa
Saling menjaga sesama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan