Potret dari pementasan tari Maengket (sulawesitourismcom)
Sulawesi Utara - Kalau bicara soal tanda syukur, pastinya orang Sulawesi Utara tidak mau kalah. Menyadari tinggal di tanah yang menyediakan segala kebutuhan manusia, orang Sulawesi Utara memiliki berbagai tradisi dengan keramatahan untuk menunjukan rasa bahagia mereka, dengan membagikan kebahagian tersebut lewat beberapa hal, layaknya makanan, musik, bahkan sampai dengan tarian.
Sebagai salah satu contoh, Tarian Maengket. Kata orang Sulawesi Utara, Tari Maengket merupakan tari rasa syukur dari Minahasa. Untuk membedah secara lanjut arti, sejarah, dan nilai filosofi Tari Maengket, simak berikut tinciannya yang telah dirangkum oleh Indozone.
Di Pulau Sulawesi pada bagian utara pasifik, tepatnya di pelukan Tanah Minahasa, hiduplah sebuah kesenian agung bernama Tarian Maengket. Selama ratusan tahun, tarian ini telah menjadi salah satu identitas serta wajah hangat yang menyapa setiap tamu yang datang, sekaligus menjadi ruh utama dalam setiap perayaan besar masyarakat Sulawesi Utara.
Secara etimologis, kata "Maengket" lahir dari akar kata engket, yang dalam bahasa lokal menggambarkan gerakan "mengangkat tumit kaki naik turun" atau "berjinjit". Untuk imbuhan "ma" sendiri, merupakan sebuah ajakan untuk melakukan tindakan kolektif atau bersama-sama. Jadi, secara harfiah, Maengket adalah sebuah tarian berjinjit yang dilakukan secara ritmis dan bersama-sama.
Indozone, tahukah kamu bahwa tradisi ini sudah ada jauh sebelum pengaruh kolonial menginjakkan kaki di Nusantara? Maengket lahir murni dari rahim masyarakat agraris yang sangat memuja kesuburan tanah dan kemurahan alam. Pada masa itu, tarian ini bukanlah sekadar hiburan pelepas lelah di sore hari, melainkan sebuah ritus sakral yang mengawal setiap fase penting dalam kehidupan manusia Minahasa.
Kenapa Maengket menjadi sebuah tarian yang penting? Bagi masyarakat pada zaman dahulu, setiap hentakan tumit penari Maengket merupakan doa, dan setiap ayunan tangan para penari adalah wujud syukur kepada alam yang telah memberi kehidupan.
Lewat Maengket, nantinya kamu pasti akan merasa terpikat saat melihat harmoni ini secara langsung, seolah-olah sejarah sedang bercerita tepat di depan matamu.
Potret dari para penari Maengket (duchithlearnphotography (wordpress))
Pada mulanya, Maengket dilakukan sebagai bentuk persembahan kepada Opo Empung (Sang Pencipta) dan dewi kesuburan. Tarian ini wajib dipentaskan saat musim panen padi tiba sebagai wujud terima kasih atas hasil bumi yang melimpah.
Seiring dengan perkembangan waktu, Maengket lantas mengalami perjalanan evolusi yang sangat menarik, bertransformasi dari sebuah ritual pemujaan menuju seni pertunjukan yang lebih inklusif tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Ketika kristenisasi mulai memasuki tanah Toar-Lumimuut, Maengket mengalami proses penyesuaian. Ritual yang dulunya ditujukan kepada roh-roh alam mulai dialihkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, pola dasar gerakan dan struktur nyanyian tetap dijaga keasliannya sebagai identitas budaya.
Salah satu pengaruh masa kolonial dalam tarian Maengket ini tampak pada kostum wanitanya. Ketika para penari Maengket wanita mengenakan atasan kebaya putih, bawahan mereka merupakan sebuah rok dari kain bentenan dengan bentuk mermaid tail yang populer di Eropa.
Saat ini, Maengket telah berkembang menjadi tarian kolosal yang sering dipentaskan dalam berbagai acara resmi, festival budaya, hingga penyambutan tamu-tamu kenegaraan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan