Potret dari motif kain bentenan dari UMKM Krisma Kain Bentenan (Karya Kreatif Indonesia 2025)
Sulawesi Utara - Indonesia bukan sekadar negeri dengan ribuan pulau. Dengan keberagaman yang ada, negeri ini layaknya sebuah kanvas raksasa yang dihiasi oleh keberagaman wastra seperti kain tradisional yang menyimpan narasi sejarah, filosofi hidup, hingga doa-doa yang ditenun dengan penuh ketelitian.
Kalau Jawa memiliki batik dengan pakemnya yang klasik, Sulawesi Utara memiliki sebuah mahakarya yang sempat hilang ditelan zaman namun kini bangkit kembali dengan pesona yang memikat, yakni: Batik Bentenan.
Buat masyarakat Sulawesi Utara, Bentenan bukan sekadar kain. Kain ini adalah identitas dan simbol keberanian, kemuliaan, serta keterikatan spiritual masyarakat Minahasa dengan alam. Pada kesempatan ini, Indozone bakal ajak kamu buat menyelami sejarah, filosofi, dan keunikan kain yang kini menjadi primadona baru di kancah mode nasional.
Untuk memahami Bentenan, kita harus mundur ke masa lampau, jauh sebelum istilah "batik" menjadi populer di wilayah ini. Secara historis, Bentenan bukanlah batik dalam pengertian teknis yang menggunakan teknik canting dan malam seperti di Jawa. Kain Bentenan, membentuk motifnya dari proses menenun kain dari ikat yang sangat halus sehingga menciptakan sebuah motif.
Nama "Bentenan" diambil dari nama sebuah wilayah di Kabupaten Minahasa Tenggara, tempat kain ini pertama kali diproduksi ratusan tahun silam.
Nah, Indozone. Tahukah kamu? Dahulu, kain Bentenan merupakan kain sakral yang digunakan oleh para Tonaas atau kalangan bangsawan dalam upacara-upacara ritual penting. Proses pembuatannya yang memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk satu helai kain, menjadikannya barang yang sangat eksklusif dan bernilai magis tinggi.
Sayangnya, seiring masuknya pengaruh tekstil modern dan perubahan tatanan sosial, teknik menenun kain Bentenan yang rumit ini sempat mengalami masa kelam dan hampir punah pada awal abad ke-20.
Di era modern, para pengrajin dan seniman di Sulawesi Utara melakukan inovasi. Mereka mengadaptasi motif-motif kuno Bentenan ke dalam teknik batik tulis dan cap modern. Hasilnya? Bentenan tetap hidup. Ia bertransformasi menjadi wastra yang lebih inklusif, dapat dipakai oleh siapa saja dalam berbagai kesempatan, tanpa kehilangan nilai sakral dan historisnya.
Batik Bentenan sangat setia pada warna-warna yang merepresentasikan alam Minahasa. Contohnya adalah, warna merah bata yang melambangkan keberanian, kuning keemasan yang jadi simbol kemuliaan dan kejayaan, serta hitam sebagai lambang kewibawaan.
Tiga warna mencolok ini, dalam Kain Batik Bentenan menjadi palet utama. Penggunaan warna-warna ini bukan sekadar estetika, tetapi cerminan dari filosofi Bumi Nyiur Melambai yang teguh dan subur. Nah, jika batik Jawa sering kali dikenal dengan isen-isen yang sangat mendetail dan rapat, Batik Bentenan cenderung lebih berani dengan guratan yang lebih tegas dan pola yang lebih bercerita. Setiap motif sering kali menggambarkan satu rangkaian narasi, bukan sekadar ornamen pengisi ruang.
Saat ini beberapa pengrajin batik di Sulawesi Utara telah menguasai proses penenunan kain batik, sehingga beberapa model dan motif kain batik bentenan telah mengikuti zaman, yang mana menghasilkan kain dengan kontras warna yang lebih cerah dan tajam, membuatnya terlihat sangat relevan dan eksklusif saat dipadukan dengan gaya busana modern seperti blazer, gaun malam, hingga pakaian formal kantor.
Setiap motif pada Batik Bentenan adalah sebuah pesan moral. Maksudnya seperti apa? Nah, ini beberapa pemahaman motif di Kain Batik Bentenan yang ikonik:
Sama seperti namanya, Pinawetengan secara harfiah berarti "tempat pembagian". Motif ini terinspirasi dari sejarah Watu Pinawetengan, sebuah situs batu bersejarah di Minahasa yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya leluhur untuk membagi wilayah dan menyelesaikan konflik.
Motif ini melambangkan persatuan, perdamaian, dan musyawarah. Mengenakan motif ini dipercaya memberikan energi positif mengenai pentingnya menjaga kerukunan antar sesama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan