Potret dari monumen Tuhan Yesus Memberkati di Kota Manado (Unsplash)
Sulawesi Utara - Di tengah gempuran era digital yang serba mandiri, sering kali, pastinya kita bertanya-tanya: masih adakah ruang tanggung jawab dalam saling membantu tanpa embel-embel transaksi materi?
Di Tanah Minahasa, Sulawesi Utara, jawabannya dapat ditemukan dengan jelas. Di tempat inilah, sebuah filosofi hidup yang telah melampaui zaman, sebuah sistem sosial yang menjadi perekat antarmanusia, yang dikenal dengan nama Mapalus, hadir.
Mapalus, adalah bukti nyata bahwa kebudayaan Minahasa memiliki kecerdasan sosial yang sangat maju. Tradisi yang telah lama ini manjadi sebuah sistem yang membuktikan bahwa kekayaan sejati bukanlah berapa banyak uang yang kita miliki di rekening, melainkan berapa banyak tangan yang bersedia menopang saat kita terjatuh.
Mapalus merupakan warisan luhur Bumi Nyiur Melambai dan harta karun yang tidak boleh hanya menjadi catatan dalam buku sejarah. Kenapa? Hal ini dikarenakan Mapalus bukan cuma sekadar kerja bakti atau gotong royong biasa. Nah, Mapalus telah menjalar di berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi Utara dan menjadi tali yang memastikan bahwa beban seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul bersama. Namun, apa sebenarnya akar dari tradisi ini, dan mengapa tradisi ini menjadi begitu krusial untuk dijaga di tengah modernitas yang kian pongah? Indozone siap menjawab pertanyaan kamu! Simak artikelnya.
Secara etimologis, kata Mapalus berasal dari dua kata dasar. Yakni: "Ma" atau melakukan, dan "Palus" yang dalam bahasa Minahasa berarti mencurahkan atau mengerahkan tenaga/kemampuan.
Dari pengertian ini, secara harfiah akhirnya kita ketahui jika Mapalus dapat diartikan sebagai aktivitas saling mengerahkan tenaga. Dalam praktek Mapalus, ini bukan hanya tentang memberi bantuan tenaga saja. Akan tetapi, sekaligus mengerahkan sumber daya demi kepentingan bersama atau membantu salah satu anggota komunitas secara bergantian.
Berbeda dengan konsep gotong royong di daerah lain yang sering kali bersifat situasional atau hanya dilakukan kala ada kejadian tertentu saja, maka Mapalus merupakan sebuah sistem yang terorganisir. Di dalamnya terdapat unsur tanggung jawab, keteraturan, dan keadilan. Menjadikan Mapalus, sebagai sebuah bentuk kerja sama yang memiliki hak dan kewajiban yang jelas bagi setiap anggotanya.
Mapalus merambah ke berbagai aspek kehidupan masyarakat Sulawesi Utara. Contohnya, dalam urusan sebuah pesta pernikahan, biasanya Mapalus berbentuk ketulusan tetangga serta masyarakat sekitar untuk menuangkan tenaga mereka dalam membantu acara, mulai dari memasak, membangun tenda, mendekorasi, dan mencuci piring. Dalam Mapalus, tidak ada tindakan besar maupun kecil. Orang-orang yang terlibat dalam mapalus ini, nantinya berkewajiban untuk dibantu lagi dalam acara, atau kebutuhan mereka.
Bicara soal Mapalus, artinya kita perlu kembali ke masa di mana leluhur orang Minahasa menggantungkan hidup sepenuhnya pada alam.
Berdasarkan sejarah, Mapalus lahir dari kebutuhan mendasar manusia sebagai makhluk sosial. Karena kondisi geografis Minahasa yang berbukit-bukit dan hutan yang lebat, mustahil bagi seorang individu untuk membuka lahan atau membangun hunian seorang diri.
Sistem ini diperkirakan sudah ada sejak zaman purba Minahasa, jauh sebelum pengaruh kolonial masuk ke nusantara. Pada awalnya, Mapalus dipimpin oleh seorang Tonaas atau pemimpin adat yang memiliki otoritas untuk mengatur pembagian kerja pada masa panen. Sehigga, tiap-tiap orang yang telah diatur pekerjannya perlu turut gotong royong untuk memanen hasil alam yang telah mereka kerjakan.
Pada masa lampau, tradisi Mapalus sering diawali dengan ritual doa kepada Empung atu Tuhan dan Sang Pencipta untuk memohon kelancaran pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, Mapalus berasimilasi dengan ajaran agama yang masuk ke Sulawesi Utara, namun esensi kebersamaannya tetap tak tergoyahkan.
Saat ini, prinsip Mapalus selaras dengan sebuah filosofi sederhana namun sakral: "Si Tou Timou Tumou Tou" yang sering diangkat pahlawan nasional Sam Ratulangi. Artinya? "Manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain."
Di era modern yang didominasi oleh ekonomi kapitalis sekarang, Mapalus berdiri sebagai antitesis yang cantik. Ada beberapa alasan mendasar mengapa tradisi ini harus tetap menjadi gaya hidup dan identitas orang Sulawesi Utara, jadi perlu dilestarikan:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan