Sulawesi Utara - Provinsi Sulawesi Utara secara geografis memiliki titik di bibir pasifik dengan sejuta pemandangan alam yang memukau. Wilayah dengan nama Bumi Nyiur Melambai ini, memiliki beragam kekayaan budaya, yang termanifestasi lewat busana trasional, atau pakaian adat.
Pakaian-pakaian adat ini, bukan hanya berbincang terkait bahan kain yang menutup tubuh. Sebaliknya, pakaian adat merupakan sebuah artefak budaya yang menceritakan strukstur sosial, sejarah panjang sebuah kawasan, sampai harmoni masyarakatnya. Jadi, di Indonesia, Pakaian Adat merupakan sebuah identitas, yang memiliki masing-masing narasi untuk merepresntasikan identitas di tempatnya. Dan berikut, Indozone akan ajak kamu, buat melihat pakaian-pakaian cantik tradisional di Sulawesi Utara.
Laku Tepu, pakaian adat asal Sangihe dan Talaud (Pariwisata Indonesia)
Sebelumnya, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud merupakan sebuah wilayah besar yang sama. Lantas, pada tahun 2002, secara resmi Kepulauan Talaud mekar dan menjadi kabupaten terbaru di Sulawesi Utara. Jadi, tidak heran lagi mengapa kedua wilayah ini dapat memiiki pakaian adat yang sama.
Pakaian adat Sangihe dan Talaud bernama Laku Tepu. Laku tepu merupakan pakaian yang dapat dikenakan oleh pria dan wanita, dan biasanya dapat dilihat saat upacara adat bernama Tulude. Ciri-Ciri dari Laku Tepu adalah pakaian baju panjang dengan ikat pinggang, dan ikat kepala.
Bahan utama dari pakaian adat ini sendiri terbuat dari serat kofo atau fami manila yang mana, Kofo adalah salah satu jenis pohon pisang di daerah Sangihe dan Talaud, seratnya diambil lalu ditenun menjadi sebuah kain dengan alat bernama Kahuwang. Dari bahannya inilah, Laku Tepu mengambil nama, dengan "Laku" artinya pakaian, dan "Tepu" berati agak sempit.
Selain Laku Tepu, ada beberapa pelengkap untuk pakaian adat yang perlu kamu ketahui dari kedua wilayah ini, yaitu:
Popehe adalah sebuah kain dengan bahan kofo yang menjadi ikat pinggang, dengan ujung sebelah kirinya diperpanjang untuk terurai ke bawah. Popehe memilki fungsi dalam memperindah Laku Tepu, dan melambangkan semangat dalam mengatasi berbagai rintangan.
Jika Popehe merupakan ikat pinggang, maka Paporongadalah sebuah helai kain untuk menjadi penutup kepala, terutama yang menutupi dahi. Paporong terbuat dari kofo, dan dibentuk menjadi segitiga. Pengguna dari Paporong, biasanya merupakan seorang pria dari golongan masyarakat biasa yang biasa disebut dengan nama Lingkaheng. Untuk para keturunan bangsawan, Paporong disebut menjadi Paporong Kawawantuge.
Nah, Popehe biasanya dilengkapi dengan sesuatu yang dinamakan oleh Kahiwu. Kahiwu adalah sebuah pelapis bagian dalam yang biasanya diikatkan di bagian sebelah kiri pingganng. Biasanya, Kahiwu dilipat yang disebut sebagai "leiwade" dengan 5 lipatan untuk masyarakat biasa, dan 7-9 lipatan untuk bangsawan.
Untuk Laku Tepu buat wanita, Bandang merupakan kain yang diletakan di bahu bagian kanan dan ujungnya diikatkan pada pinggang sebelah kiri. Umumnya, Bandang hanya digunakan oleh wanita dari golongan masyarakat biasa, sementara bangsawan akan menggunakan "Kaduku" untuk Laku Tepu mereka.
Selain Bandang, Boto Pusige merupakan salah satu melengkap Laku Tepu lainnya yang digunakan oleh wanita. Boto Pusige sendiri, merupakan sebuah sanggul yang terletak di atas sanggulan kepala wanita. Boto Pusige, biasanya dikenakan dengan Sasusu Boto yang berati tusuk Konde.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan