Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 30 APRIL 2026 • 23:19 WIB

Sejarah Kolintang, Musik Tradisional Berbahan Kayu Dari Sulut

Sejarah Kolintang, Musik Tradisional Berbahan Kayu Dari SulutPotret dari alat musik tradisional Kolintang yang tengah dimainkan. (Joshua Umboh (Unsplash))

Sulawesi Utara - Bayangkan kamu sedang melangkah masuk ke sebuah desa di Sulawesi Utara. Sebelum mata sempat memandang gunung atau laut, telingamu lebih dulu disambut suara riang yang jernih dan merdu dari kayu-kayu yang bikin nostalgia sampai ke dada. Kurang lebih, itulah bunyi dari bilah-bilah kayu yang saling berbenturan: Kolintang.

Indozone, jangan bayangkan dulu panggung megah atau festival. Karena dahulu kala, jauh sebelum Kolintang menenangkan pendengar di berbagai hotel atau acara pertunjukan, Kolintang punya peran yang lebih sakral dan mencekam: alat musik tradisional ini adalah wujud lain dari doa, wujud dari suara manusia kepada pencipta kala hening malam.

Lewat artikel ini, Indozone bakalan ajak kamu buat mundur ke masa lalu pasca melodi dari Kolintang bukan untuk membuat orang tersenyum, melainkan untuk membuat para atau leluhur mendengarkan.

1. Mengenal Instrumen Kolintang dan Perannya di Masa lampau

Jauh sebelum memasuki panggung-panggung konser modern, Kolintang memegang peranan sentral dalam sistem kepercayaan asli masyarakat Minahasa. Instrumen ini adalah elemen wajib dalam ritual pemujaan kepada Opo Empung atau Yang Maha Kuasa.

Pada zaman dahulu, Kolintang dianggap sebagai benda sakral. Bunyinya dipercaya mampu memanggil roh para leluhur untuk turun dan memberikan berkat bagi tanah pertanian. Ketika ritual Foso atau upacara syukur panen dilaksanakan, dentuman kayu Kolintang mengiringi doa-doa yang dipanjatkan oleh sang Tonaas.

Keberadaannya saat itu berfungsi sebagai pengatur ritme spiritualitas masyarakat, pengingat bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam yang dijaga oleh kekuatan adisurya.

Pada fase ini, bilah kayu yang digunakan biasanya terbuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti kayu telor atau kayu cempaka. Susunannya pun masih sangat sederhana, diletakkan di atas kedua kaki pemain yang duduk selonjor, sehingga resonansi bunyinya langsung terasa ke tubuh sang pemain, menjadikan hal ini layaknya sebuah koneksi fisik pemain Kolitang dan metafisik dari alat musik yang tengah mereka mainkan.

2. Sejarah Di balik Kolintang

Sejarah Kolintang yang jadi alat musik pukul dari kayu dengan bunyi nyaris seperti air mengalir di atas batu, nyatanya tidak pernah semulus melodi yang dihasilkan oleh alat musik tradisional Kolitang. Justru, sejarah dibalik Kolintang dapat dikatakan penuh lika-liku yang bikin geleng-geleng kepala.

Bagi masyarakat Minahasa, Kolintang bukan sekadar alat musik. Kolintang, ibaratnya adalah sebuah jembatan antara manusia dan leluhur, antara desa dan alam semesta. Dan ketika pengaruh kolonialisme serta agama tertentu merangsek masuk, jembatan itu sengaja diputus.

Bayangkan deh Indozone. Di masa ketika kapal-kapal dagang dan para misionaris mulai berlabuh di Sulawesi Utara, Kolintang yang dulu akrab di telinga masyarakat, tiba-tiba harus bersembunyi. Hal ini dikarenakan, para penjajah terlebih bangsa Jepang kala itu menganggap apabila musik Kolintang terlalu melekat dengan ritual-ritual kepercayaan lokal yang dapat menghambat ideologi dan propoganda mereka masuk ke tengah-tengah masyarakat. 

Akibat dari hal ini, hampir seratus tahun lamannya, Kolintang menjalani masa pengasingan yang panjang. Suaranya yang dulu mengisi pesta panen dan upacara adat, lenyap dari ruang publik. Rumah-rumah besar di Manado tak lagi mengundang bunyi bilah-bilah kayu yang dipukul berirama. 

Meski demikian, Di desa-desa terpencil, jauh dari mata penguasa, para pengrajin tua tetap setia meracik kayu jadi Kolintang. Mereka kerja sembunyi-sembunyi.

Kebangkitan besar Kolintang terjadi setelah masa kemerdekaan, tepatnya melalui inovasi besar-besaran pada strukturnya. Jika sebelumnya Kolintang hanya memiliki tangga nada pentatonis atau lima nada yang terbatas untuk lagu-lagu ritual, para seniman Minahasa mulai melakukan eksperimen. Di bawah pengaruh musik barat yang mulai dikenal, susunan bilah kayu Kolintang disesuaikan menjadi tangga nada diatonis, yang berati Do-Re-Mi-Fa-So-La-Si.

Inovasi ini mengubah segalanya. Berkat adaptasi terkait, kini Kolintang tidak lagi terjebak dalam lirik-lirik kuno, melainkan mulai bisa memainkan lagu-lagu populer, lagu kebangsaan, hingga aransemen orkestra yang rumit.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sejarah Kolintang, Musik Tradisional Berbahan Kayu Dari Sulut

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!