Tangkapan layar Street View tugu Ibu (Maria Walanda Maramis) dan Anak di Kota Manado (Google maps)
Sulawesi Utara - Jika kita berbicara mengenai gerakan perempuan di Indonesia, nama Kartini sering kali menjadi sosok pertama yang muncul di benak banyak orang. Namun, dari ufuk utara Nusantara, tepatnya di Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara, lahir seorang srikandi tangguh yang visinya tentang emansipasi dan pendidikan perempuan melampaui batasan zamannya. Beliau adalah Maria Walanda Maramis, seorang "Ibu Bangsa" yang perjuangannya tidak menggunakan senjata api, melainkan melalui kekuatan pena, kecerdasan berpikir, dan keberanian dalam berorganisasi.
Maria Walanda Maramis bukan sekadar nama yang terukir di buku sejarah; beliau adalah simbol kebangkitan intelektual perempuan Sulawesi Utara. Di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan di bawah cengkeraman kolonialisme, Maria muncul sebagai cahaya yang membuka jalan bagi kaumnya untuk berdiri tegak, mandiri, dan berdaya. Untuk mengenang sosok hebat dan tangguh ini, kali Indozone akan membahas secara singkat profil ibu Maria Walanda Maramis.
Lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis pada 1 Desember 1872 di Kema, Minahasa, kehidupan awal Maria tidaklah mudah. Menjadi yatim piatu di usia dini membuatnya tumbuh di bawah asuhan paman dan bibinya. Meskipun akses pendidikan bagi perempuan saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah kolonial Belanda, rasa haus Maria akan ilmu pengetahuan tidak pernah padam.
Perjuangan Maria dimulai ketika ia menyadari bahwa perempuan Minahasa harus memiliki pengetahuan yang mumpuni agar bisa menjadi tiang penyangga keluarga yang kuat. Baginya, ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya; jika ibu tidak terdidik, maka generasi masa depan pun akan rapuh.
Melihat hal ini, lantas, pada 8 Juli 1917, Maria mendirikan sebuah organisasi bernama PIKAT yang memiliki kepanjangan menjadi: Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya. Melalui PIKAT, Maria membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan keterampilan praktis bagi perempuan, seperti menjahit, memasak, dan kebersihan rumah tangga, hingga ilmu pengetahuan umum.
Kehebatan Maria tidak berhenti pada pendidikan praktis. Beliau adalah sosok yang memperjuangkan hak pilih perempuan dalam badan perwakilan daerah (Minahasa Raad). Maria berargumen dengan cerdas bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk memberikan suara dalam urusan pemerintahan, sebuah pemikiran yang sangat progresif pada awal abad ke-20.
Perjuangan Maria, lantas berlanjut dengan pena sebagai senjatanya. Lewat tulisan-tulisan, Maria rutin menuliskan gagasan-gagasannya di surat kabar lokal, Tjahaja Siang. Di sini, denngan lantang ia mengkritik ketidakadilan sosial dan memotivasi perempuan untuk berani tampil di depan publik.
Jasa Maria Walanda Maramis kini telah diabadikan sedemikian rupa agar generasi mendatang tidak pernah melupakan akar sejarah mereka. Monumen dan nama jalan bukan sekadar tanda lokasi, melainkan momentum yang tidak akan henti-hentinya mengingatkan generasi mendatang, akan keringat dan air mata para pejuang. Beberapa napak nilas, sebagai warisan dari Maria Walanda Maramis yang kamu dapat temukan sendiri di Kota Manado adalah
Di Manado, sisa-sisa kejayaan sekolah yang didirikan Maria masih dapat ditemui. Gedung-gedung ini bukan hanya bangunan tua, melainkan saksi bisu di mana ribuan perempuan Minahasa pertama kali belajar membaca, menulis, dan menyadari hak-hak mereka sebagai warga negara.
Sebagai warga daerah dan warga negara yang baik, tugas kita bukan hanya sekadar mengenang tanggal lahirnya pada setiap bulan Desember. Tugas kita adalah memastikan bahwa "api" perjuangannya dalam mencerdaskan bangsa terus menyala di hati setiap anak muda. Mari kita kunjungi monumennya, pelajari tulisannya, dan terapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Maria Walanda Maramis adalah bukti nyata bahwa pahlawan tidak harus selalu memegang pedang. Beliau adalah pahlawan yang memegang obor ilmu pengetahuan untuk menerangi kegelapan kebodohan. Perjuangannya di Minahasa telah memberikan pondasi yang kuat bagi kemajuan perempuan Indonesia hingga saat ini. Jangan sampai melupakan sejarah kita ya, Indozone. Semoga artikel ini bermanfaat buat kamu untuk mengenal lebih lanjut ibu Maria Walanda Maramis serta perjuangannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan