Sulawesi Utara - Kalau Desember identik dengan gemerlap lampu natal yang menghiasi setiap sudut kota dan tempat, maka bulan Maret dan April membawa atmosfer yang berbeda bagi masyarakat Sulawesi Utara, dan atmosfer itu tak kalah magis.
Paskah, buat warga di provinsi yang dikenal dengan toleransi tingginya ini, bukan sekadar hari peringatan religius di dalam gedung gereja. Paskah telah lama menjadi pesta rakyat bagi masyarakat, menjadi ruang kreasi seni, sekaligus momentum mempererat tali persaudaraan yang melintasi batas-batas teritorial lingkungan. Penasaran dengan perayaan-perayaan yang sudah jadi tradisi di Provinsi ini? Berikut liputannya oleh Indozone!
1. Lomba Menghias Lingkungan
Salah satu pemandangan yang paling mencolok di Sulawesi Utara menjelang Paskah adalah transformasi lingkungan hidup pemukiman masyarakat, atau yang biasa disebut "lorong-lorong".
Awalnya, menghias lingkungan ini biasanya dilombakan oleh pihak gereja atau pemerintah setempat. Mengikuti zaman, lama-lama kebiasaan ini menjadi tradisi di setiap lorong, dan bahkan menjadi atraksi wisata terkenal.
Lewat tradisi ini, kreativitas warga seolah tumpah ruah. Mereka mendaur ulang untuk membuat replika makam kosong Yesus, dan dan menata lampu hias yang unik, dan sangat indah. Di sejumlah tempat di Minahasa, bambu-bambu dicat indah dan disusun untuk membentuk gerbang masuk yang megah bagi para pengendara yang lewat.
2. Pertunjukan Balada Penyaliban Tuhan Yesus
Di Sulawesi Utara, puncak refleksi iman terkadang kali divisualisasikan lewat sebuah pertunjukan teater jalanan yang dikenal sebagai Jalan Salib Hidup atau Balada Penyaliban. Berbeda dengan prosesi di dalam gereja, balada penyaliban ini digelar di ruang publik sehingga dapat disaksikan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Balada yang biasanya dilakukan oleh kaum muda ini, bermaksu untuk mereplika peristiwa kematian Yesus sesuai dengan injil dalam Alitab. Tidak jarang, prosesi ini menyusuri jalan-jalan protokol dan panjang. Tradisi ini berfungsi sebagai pengingat visual bagi publik mengenai makna pengorbanan dan penebusan Yesus. Sering kali rute jalan salib ini menjadi daya tarik wisata religi tersendiri bagi pendatang yang kebetulan sedang berada di Sulawesi Utara.
3. Makan Bersama
Di Sulawesi Utara, kegembiraan ini paling pas dirayakan di meja makan. Tradisi makan bersama di halaman atau aula gereja setelah Misa Paskah atau Ibadah Fajar adalah hal yang wajib. Biasanya, di gereja-gereja setiap keluarga membawa hidangan terbaik mereka dari rumah dengan beragam menu untuk dibagikan kepada sesama umat lainnya, seperti: ayam bumbu RW, sate babi, sayur pangi, hingga nasi jaha tersaji rapi.
Uniknya, tradisi makan bersama ini sangat inklusif. Jadi biasanya, barang siapa pun yang melintas, terlepas dari latar belakangnya, sering kali diajak untuk mampir dan makan bersama. Tradisi makan bersama ini kemudian melebutkan status sosial. Baik pendeta, penatua, hingga jemaat biasa duduk di kursi plastik yang sama, lalu mereka menikmati hidangan yang sama, dan berbagi tawa yang sama.
4. Lomba Paduan Suara dan Kidung
Sulawesi Utara sering dijuluki sebagai "Gudang Penyanyi", sebab, reputasi ini terbukti nyata setiap kali perayaan Paskah tiba. Lomba Paduan Suara adalah agenda yang sangat selalu hadir setiap paskah. Setiap jemaat, wilayah, hingga kategori kategorial biasanya berlatih vokal secara intensif selama berminggu-minggu demi memberikan penampilan terbaik untuk paskah.
Punya rencana untuk habiskan libur di hari paskah nanti? Bagaimna kalau mampir ke Sulawesi Utara, Indozone. Dijamin, kamu pasti tidak akan menyesal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan