Minggu, 19 APRIL 2026 • 23:43 WIB

Lokasi Bangunan Peninggalan Kolonial di Sulawesi Utara

Author

Tangkapan layar dari Street View Gedung De Javasche Bank (DJB), di Kota Manado (Google maps)

Sulawesi Utara - Di segala penjuru Provinsi Sulawesi Utara, perubahan, pembangunan bangunan-bangunan baru dan modern memenuhi segala sisi jalan. Bangunan bertekstur dan bermodel modern pastinya memang keren. Tapi tidak ada yang dapat mengalahkan tema klasik dari mesin waktu bangunan-bangunan pada masa kolonial.

Banyak cerita yang ditiggalkan oleh bangunan-bangunan kolonial ini. Setiap sisi dari bangunan menceritakan kisah-kisah manis, pahit, tentang perjuangan bangsa kita untuk mendapatkan kembali kebebasan dan kemerdekaan mereka.

Untuk merayakan dan menolak lupa dari sejarah terebut, dalam kesempatan ini Indozone akan mengajak kamu menjelajahi bangunan bersejarah yang tersebar di Provinsi Sulawesi Utara, yang akan jadi favoritnya para pecinta estetika arsitektur bangunan kolonial, serta para penggemar sejarah.

1. Minahasa Raad

Gejolak pergerakan politik serta administrasi Sulawesi Utara, bermulai dari sebuah gedung sederhana yang menjadi rumah bagi suara rakyat. Gedung ini bernama Minahasa Raad.

Sama seperti namanya, dibangun pada awal abad ke-20, gedung ini berfungsi sebagai kantor Dewan Minahasa. 

Dewan Minahasa ini merupakan badan yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai wadah dan wajah representasi lokal masyarakat Minahasa, terutama di Manado, dengan cara menjadikan bangunan ini sebagai tempat para intelektual Minahasa menyuarakan aspirasi otonomi dan kesejahteraan rakyat. Di gedung inilah, diplomasi dan perdebatan politik tingkat tinggi antara kaum pribumi dan pejabat Belanda kerap berlangsung selama berjam-jam.

Gedung Minahasa Raad, merupakan saksi bisu yang menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran kritis yang kelak akan membantu rakyat keluar dari masa penjajahan. Secara arsitektur, gedung ini memiliki gaya Indische dengan jendela-jendela kayu yang besar dan langit-langit tinggi untuk meredam suhu tropis Hindia Belanda kala itu.

Uniknya, hingga saat ini gedung Minahasa Raad tetap kokoh dan masih berdiri meski sempat melewati masa transisi kekuasaan yang penuh pergolakan, menjadikannya salah satu simbol intelektualitas masyarakat Sulawesi Utara.

Saat ini, kamu dapat menemukan Minahasa Raad dengan mudah dikarenakan terletak di pusat Kota Manado, yang mana berati dekat dengan berbagai fasilitas umum seperti bank, restoran dan hotel berbintang. 

2. Rumah Raja Manganitu

Dari pusat Kota Manado yang dipenuhi dengan ramai, kita beralih ke pulau mempesona, Kepulauan Sangihe dimana akhirnya kita dipertemukan sebuah bangunan sederhana lama, namun menjadi kediaman dari seorang raja. Temui Rumah Raja Manganitu.

Bangunan ini, merupakan representasi sempurna dari percampuran budaya lokal Sangihe dan pengaruh estetika kolonial. Untuk yang belum tau, rumah ini merupakan kediaman resmi Raja Sangihe ke-13 yang dibangun oleh Raja Welem Manuel Pandensolang. 

Rumah Raja Manganitu memiliki fungsi sebagai tempat tinggal, sekaligus lokasi terjadinya diplomasi para bangsawan dan pejabat saa berkunjung di Pulau Sangihe. Meskipun telah berusia lebih dari satu abad, struktur rumah panggung ini tetap tegak tanpa dimakan usia. Keunggulan bangunan ini terletak pada material kayunya yang legendaris, yakni kayu nani (kayu besi). Jendela-jendela besarnya memungkinkan pencahayaan alami yang sangat indah, menjadikannya lokasi favorit untuk pemotretan bertema historis.

Saat ini, Rumah Raja Manganitu telah mendapatkan berbagai revitalisasi serta peremajaan sebagai salah satu lokasi wisata budaya di Kepulauan Sangihe, jadi dapat dikunjungi oleh umum untuk belajar mengenai sejarah Raja Manganitu, dengan catatan tentunya mematuhi aturan serta tetap sopan di lokasi yang ada.

3. Gedung De Javasche Bank

Indozone, pernah kamu melewati Multimart 45, dan melihat sebuah bangunan bergaya Belanda di depannya? De Javasche Ban itu adalah nama lama dari Bank Indonesia, yang menjadi cerminan kejayaan ekonomi di Kota Manado dan nama dari bangunan bergaya Belanda tersebut.

Gedung ini berfungsi sebagai bank sentral yang mengelola sirkulasi keuangan dan perdagangan rempah-rempah. Arsitekturnya yang bergaya klasik Eropa dirancang untuk menunjukkan stabilitas dan kekuatan finansial kolonial. Alasan pembangunan dari gedung ini? Saat itu Kota Manado menjadi salah satu pelabuhan ekspor terpenting di Hindia Belanda.

Gedung ini memiliki struktur tembok yang sangat tebal untuk keamanan tingkat tinggi. Salah satu fakta menariknya adalah keberadaan ruang bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai penyimpanan emas dan dokumen berharga. Detail pilar dan pintunya masih asli, memberikan nuansa kota tua Eropa yang sangat kental.

Hingga saat ini, gedung De Javasche Bank Gedung ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan kondisinya sangat bersih serta terawat. Area di depan gedung ini kini menjadi spot foto "Instagrammable" yang populer bagi pencinta gaya hidup retro dan arsitektur klasik.

4. Tugu Perang Dunia II

Berada tepat di samping Gereja Sentrum Kota Manado, Tugu Perang Dunia II berdiri sebagai simbol peringatan, duka, sekaligus harapan dan perdamaian di tanah Toar-Lumimuut.

Sesuai namanya, tugu ini didirikan pada tahun 1946 untuk mengenang para korban yang gugur selama Perang Dunia II di wilayah Pasifik. Pendirian Tugu Perang Dunia II di samping Gereja Sentrum ini dikarenakan Kota Manado sempat mengalami kehancuran parah akibat pengeboman udara selama perang berlangsung. Monumen ini menghormati tentara sekutu dan warga lokal yang berjuang mempertahankan tanah air.

Struktur tugu ini menyerupai obelisk dengan desain yang sarat makna simbolis. Memiliki tinggi 40 meter, Tugu Perang Dunia II menjadi sebuah simbol dari penyerahan jiwa korban peperangan dan penjajahan kepada Tuhan.  Di bagian dasarnya, terdapat ruang penyimpanan abu dari korban peperangan, sementara di atasnya,  terdapat  empat bola yang melambangkan roda peti jenazah sebagai simbol pemisah mereka yang di bumi, dan mereka yang ada di surga.

Tugu ini berada di area terbuka yang sangat terawat. Di sekelilingnya terdapat taman kecil yang sering digunakan warga untuk bersantai sore. Di malam hari, lampu sorot yang mengarah ke tugu menciptakan siluet yang sangat dramatis dan elegan.
 

Indozone, sejarah adalah bagian dari diri kita sebagai individu, sekaligus bagian dari berbangsa. Jadi, mari kita terus mengingat, merenungkan sekaligus mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah ini untuk menghidupkan warisan budaya untuk kepentingan generasi yang akan mendatang. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU