Kamis, 30 APRIL 2026 • 15:35 WIB

Mengenal Apa Itu Tradisi Foso dari Sulawesi Utara

Author

Potret dari salah satu penari Kabasaran (Ray Kacaribu on Unsplash)

Sulawesi Utara - Sudah bukan rahasia lagi jika tanah Minahasa, menjadi salah satu tanah dengan tingkat kesuburan yang tinggi. Selama ribuan tahun lamannya, masyarakat di wilayah dengan nama Bumi Nyiur Melambai ini hidup dengan menggandalkan hasil garapan tanah dan kekayaan alam. Dan, untuk merayakan hal tersebut, mereka mensyukurinya lewat sebuah tradisi bernama Foso.

Di belahan dunia barat, kamu mungkin akan mengenal sebutan Thanksgiving. Di Sulawesi Utara, Foso dikenal sebagai hal yang sama, namun dengan cara masyarakat merayakannya dengan kearifan lokal. Nama lain dari Foso yang terkenal mungkin kita kenali sebagai Pengucapan Syukur.

Pengucapan Syukur bukanlah sebuah  tradisi yang berdiri di ruang hampa. Pengucapan Sykur merupakan sebuah titik temu harmonis antara ritus kuno bernama Foso dengan ajaran iman kristiani yang kini dipeluk oleh mayoritas masyarakat Minahasa.

Di kali kesempatan ini, Indozone bakalan mengajak kamu buat menyelami perjalanan sejarah Foso yang bertransisi dari ritual persembahan leluhur menuju perayaan syukur yang inklusif dan membumi di era modern.

1. Mengenal Pengertian Foso

Ilustrasi dari potret sekelompok orang tengah memanen (Unsplash)

Jauh sebelum denting lonceng gereja menyapa setiap pelosok di desa-desa Minahasa, nenek moyang masyarakat di sini telah memiliki tatanan spiritual yang sangat dekat dengan alam. Sejak dahulu, masyarakat Provinsi Sulawesi Utara diajarkan untuk menaati hukum alam, dan menghormati setiap unsur yang ada di dalamnya. Dan, Tradisi Foso adalah sebuah tradisi ritus kuno yang memegang peranan sentral dalam kehidupan sosial dan agraris di Minahasa.

Secara terminologi, Foso merupakan serangkaian ritual persembahan yang dilakukan sebagai bentuk pengakuan manusia atas ketergantungan mereka kepada Opo Empung yang jadi Sang Pencipta atau Yang Maha Kuasa.

Hal ini dipercaya, dikarenakan dalam kepercayaan animisme dan dinamisme masa lampau, alam adalah entitas yang hidup yang menjadikan manusia harus hidup berdamai dengan mereka apabila ingin bertahan hidup.

Dalam kepercayaan ini, panen melimpah bukan sekadar hasil kerja keras petani, melainkan anugerah yang harus disyukuri agar tanah tetap memberikan kesuburan di musim tanam berikutnya. Jadi, untuk mensyukuri hal tersebutm munculah Foso.

Foso, memiliki kepanjangan Foso Rumages. Apa itu Foso Rumages? Foso Rumages adalah sebuah ritual khusus yang dilakukan saat proses pembersihan atau pengumpulan hasil panen dari ladang ke lumbung. Ritual ini dipimpin oleh seorang Tonaas atau pemimpin adat. Dalam Foso Rumages, hasil bumi pertama yang dipanen tidak boleh langsung dikonsumsi, melainkan harus dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan.

Filosofi di balik Foso sebenarnya sangat mulia: keseimbangan. Nenek moyang Minahasa percaya bahwa jika manusia tidak tahu cara berterima kasih kepada sumber kehidupan, maka alam akan menarik kembali berkahnya. Maka daripada itu, tradisi foso menjadi jembatan bagi manusia untuk menjaga keseimbangan itu.

2. Perkembangan Foso di Sulut

Ilustrasi dari potret makanan di atas prasmanan (Unsplash)

Ketika ajaran Kristen masuk ke tanah Minahasa pada abad ke-19 melalui para misionaris, terjadi perjumpaan antara budaya yang unik. Kala itu, para penginjil dihadapkan pada tradisi masyarakat sekitar yang sangat kuat akarnya menghormati dan berdoa pada Opo Empung dan alam. Alih-alih melarang atau memusnahkan kepercayaan, serta tadisi-tradisi tersebut, maka terjadilah proses yang disebut sebagai inkulturasi.

Inkulturasi adalah proses di mana nilai-nilai budaya lokal diangkat, disucikan, dan dipadukan dengan ajaran iman. Foso yang bermula dari sebuah ritual, yang dulunya ditujukan kepada roh-roh leluhur, secara perlahan mengalami transformasi substansial dan berubah menjadi tradisi di masa yang sekarang.

Di era baru ini, makna "persembahan" dalam Foso tetap dipertahankan, namun objek penyembahannya dialihkan kepada sang pencipta semesta, yakni Tuhan Allah.

Nah, disinilah awal mula lahirnya perayaan Pengucapan Syukur yang kita kenal sekarang. Ibadah gereja menjadi puncak perayaan, menggantikan ritual-ritual Tonaas.

Masyarakat membawa hasil panen terbaik mereka ke rumah ibadah sebagai persembahan simbolis, lalu setelah ibadah selesai, dilakukanlah perjamuan makan bersama. 

Transisi ini menjadi sebuah bukti bahwa budaya Minahasa, sangat terbuka terhadap perubahan tanpa harus kehilangan jati dirinya. Pengucapan Syukur kini menjadi salah satu bentuk perayaan iman yang paling autentik di Indonesia.

3. Makna Dibalik Foso

Ilustrasi dari potret sekelompok orang tengah berbagi makan (Unsplash)

Nah, kalau kamu belum pernah merasakan momen Pengucapan Syukur di Minahasa, kamu melewatkan salah satu pengalaman paling hangat di Indonesia.

Bayangkan saja, ketika Pengucapan Syukur di wilayah ini, hampir seluruh rumah di desa membuka pintunya lebar-lebar untuk siapa saja untuk datang bersinggah. Bahkan, di beberapa tempat Pengucapan Syukur pun dirayakan dengan mengajak orang asing yang lewat di depan jalan. 

Pengucapan Syukur menjadi salah satu hari yang begitu besar di Provinsi Sulawes Utara. Tidak peduli agama atau identitas kita, siapapun yang ada di sini bisa ikut merayakan Pengucapan Syukur.

Dalam perayaan ini, tembok yang ada di tengah-tengah sosial seolah runtuh. Tidak ada tamu yang dianggap orang asing. Siapa pun yang lewat di depan rumah, baik itu keluarga, sahabat, rekan kerja, hingga pengembara, akan ditarik masuk untuk makan. Menolak ajakan untuk makan saat Pengucapan Syukur sering dianggap tidak sopan.

Dalam pengucapan syukur inim biasanya ada beberapa hidangan yang menjadi ikon. Diantaranya adalah: nasi jaha. Apa itu nasi jaha? Sama seperti namanya, nasi jaha merupakan terbuat dari beras ketan dan santan yang dibumbui, dimasukkan ke dalam bambu, kemudian dipanggang di atas bara api.

Selain nasi jaha hidangan ikonik lainnya akan memenuhi meja makan khas Minahasa yang kaya rempah, seperti cakalang fufu, daging babi rica, hingga berbagai macam kue tradisional.

Makanan-makanan ini disajikan untuk setiap tamu yang datang berkunjung ke rumah. Ketika mereka pulang, selain perut mereka kenyang, tangan mereka juga penuh dengan bungkusan. Sehingga, tradisi Pengucapan Syukur adalah ajang membagikan suka cita atas panen.

Hidangan yang melimpah di atas meja adalah manifestasi fisik dari berkat.

Nah, mengapa Pengucapan Syukur harus dirayakan dengan hidangan? Apakah ini bentuk pemborosan? Buat masyarakat Minahasa, jawabannya jelas ngak, dong.

Dalam budaya Minahasa, menyimpan berkat hanya untuk diri sendiri dianggap sebagai perbuatan yang memutus aliran berkat tersebut. Dengan membagikan makanan kepada banyak orang, masyarakat percaya bahwa Tuhan akan memberikan berkat yang lebih besar lagi pada musim panen mendatang.

Foso telah berevolusi menjadi Pengucapan Syukur. Dari ritual kuno di bawah pohon beringin menuju ibadah di gedung-gedung gereja yang megah. Dari sekadar persembahan kepada roh, menjadi wujud syukur kepada Allah atas segala kemurahan-Nya.

Namun, satu hal yang tidak pernah berubah sejak era Foso Rumages hingga detik ini yaitu tali persaudaraan dan kemanusiaan. Pengucapan Syukur di tanah Minahasa mengajarkan kita bahwa berkat yang paling indah bukanlah yang kita simpan di dalam lumbung, melainkan yang kita bagikan di atas piring untuk sesama.

Itu dia pembahasan Indozone seputar soal tradisi Foso atau Pengucapan Syukur di Provinsi Sulawesi Utara. Indozone, Pengucapan Syukur biasanya dirayakan kala pertengahan bulan Juli atau Juni nanti. Di tahun 2026 ini, belum ada penguguman resmi terkait kapan adanya Pengucapan Syukur. Meski demikian, kamu pasti ngak mau ketinggalan, benar? Jadi ajak teman dan keluarga kamu untuk mengunjungi Bumi Nyiur Lambai. Pastikan kamu ngak ketinggalan Pengucapan Syukur, dan Sampai Bakudapa Ulang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU