Kamis, 30 APRIL 2026 • 21:58 WIB

Suku Sangihe-Talaud, Suku di Pelukan Samudra Sulut

Author

Potret dari wilayah Talaud dari atas langit (saveporodisa)

Sulawesi Utara - Indozone, pernah kah kamu memba membayangkan sebuah tempat di mana di atas peta yang begitu luas, sebuah daratan cuma kelihatan seperti titik-titik yang tersebar di tengah samudra biru yang luas? Nah, kira-kira, lebih itulah gambaran dari Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud. Dua wilayah keren ini ada di Provinsi Sulawesi Utara, dan mereka adalah beranda paling depan Indonesia yang berbatasan langsung sama perairan Filipina.

Sedikit yang tahu. Di balik deretan pulau yang jadi tempatnya beradu ombak sama Samudra Pasifik, ada Suku Sangihe-Talaud. Suku Sangihe-Talaud merupakan etnis yang tinggal di kepulauan dengan nyali luar biasa dan budaya yang super eksotis dan bukan kaleng-kaleng. Buat kamu yang hobi jalan-jalan beda dari biasanya, suka ngulik kain-kain tradisi dan bentuk rumah adat Nusantara, kali Indozone bakalan ajak kamu untuk berkenalan dengan Suku Sangihe-Talaud yang sekali lihat, bakalan mengubah cara kamu memandang kekayaan Indonesia jadi jungkir balik.

1. Karakteristik Masyarakat Suku Sangihe-Talaud

Secara administratif, Suku Sangihe-Talaud mendiami di dua daratan kepulauan paling utara di wilayah Pulau Sulawesi, yaitu Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Karena letak posisinya yang istimewa, kawasan ini kerap disapa dengan julukan manis, "Bumi Nusa Utara."

Kenapa manis? Sebuah nama ini, dapat langsung mendeskripsikan Kepulauan Sangihe dan Talaud dan dapat membantu kamu untuk terbayang semilir angin laut dan hamparan biru yang menyambut mata.

Sehari-hari masyarakat di tempat ini benar-benar diwarnai oleh karakter maritim yang kental menyeluruh. Bagi suku Sangihe-Talaud, Laut bukan cuma jadi tempat mencari ikan atau sumber penghasilan semata.

Lebih dari itu, bagi suku ini laut menjadi jalan raya kehidupan, urat nadi yang menghubungkan antarpulau, tempat anak-anak belajar mengenal ombak, dan para orangtua mewariskan peta langit kepada generasi baru. Jadi, tidak heran jika orang Sangihe dan Talaud dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung. Sejak zaman dahulu kala, mereka telah berani menaklukkan ganasnya samudra, berlayar jauh demi menjalin perdagangan, menyebarkan kabar, dan merajut komunikasi antarpulau.

Nah, semangat iniulah yang membuat masyarakat suku Sangihe-Talaud ini menjadi orang-orang dengan karakteristik tangguh, ramah, dan selalu punya cerita tentang garis cakrawala yang tak pernah benar-benar jauh dari hati.

Ada sesuatu yang menarik dari suku ini. Meskipun masyarakat Sangihe dan Talaud datang dari dua pulau yang berbeda, dan secara adiminstrasi berada di kabupaten yang berbeda, nyatanya, masyarakat di kedua pulau ini sering disebut dalam satu napas. Hal ini tercermin dari dialek sehari-hari mereka serta beberapa tradisi lokal yang diwariskan turun-temurun.

2. Warisan Budaya Laku Tepu dan Balay

Di era globalisasi yang cepat seperti sekarang, identitas etnis dari Kepulauan Sangihe-Talaud memberikan kita perspektif baru tentang ketangguhan. Nyatanya, suku ini jadi bukti, bahwa batasan geografis dan wilayah yang terhalangi samudra bukanlah penghalang untuk menciptakan budaya yang luhur hingga dikenal oleh penjuru dunia. Melalui pakaian Laku Tepu yang berkilau dan rumah Balay yang kokoh, nyatanya, suku Sangihe-Talaud terus menitipkan pesan bagi generasi mendatang tentang pentingnya menjaga harmoni dengan alam. Penasaran dengan kedua warisan dari suku ini? Selengkapnya dibahas oleh Indozone di bawah.

Mengenal Laku Tepu

Potret dari pakaian Laku Tepu dari suku Sangihe-Talaud (Kepulauan Sangihe (facebook))

Kalau berbicara soal busana tradisional, Suku Sangihe-Talaud memiliki salah satu pakaian adat paling unik di dunia bernama Laku Tepu. Nah, kamu mungkin bertanya-tanya. Memangnya, apa sih yang buat Laku Tepu begitu istimewa?

Laku Tepu begitu istimewa, ia mendapatkan perhatian para peneliti tekstil internasional karena bahan dasarnya.

Pakaian adat ini, berbahan dasar dari serat kofo, yang berasal dari batang pisang abaka. Bukankah itu unik? Indozone, serat Kafo ini memiliki karakteristik yang luar biasa: sangat kuat, tahan terhadap air garam, namun memiliki kilau alami yang menyerupai sutra halus, jadi dengan pengunaan serat ini pada sebuah pakaian adat, menjadikan Laku Tepu sebuah pakaian tradisional yang unik dan beda daripada yang lain.

Dalam Laku Tepu, terdapat beberapa detail yang membuatnya istimewa. Umumnya, Laku Tepu dapat dikenakan oleh pria dan wanita. Pakaian adat tradisional ini berbentuk tunik panjang yang menutupi hingga lutut bagi pria, sementara untuk wanita menjuntai hingga pergelangan kaki.

Untuk melengkapi Laku Tepu, para pemakainya diwajibkan untuk mengenakan paporong atau penutup kepala, serta popehe yang jadi ikat pinggang.

Uniknya, cara melilitkan popehe bisa menunjukkan status sosial atau status pernikahan sang pemakai.

Meskipun sekarang ini Laku Tepu sudah banyak menggunakan pewarna tekstil modern, namun secara tradisional Laku Tepu didominasi warna kuning yang melambangkan keagungan dan kejayaan, serta warna hijau yang melambangkan kesuburan kedua pulau ini.

Indozone, tahukah kamu? Dipercaya oleh masyarakat setempat apabila menggunakan Laku Tepu memberikan sensasi kemewahan organik yang tidak bisa ditemukan pada kain pabrikan modern. Kofo yang jadi bahan dasar Laku Tepu lantas menjadi sebuah bukti bahwa leluhur Sangihe-Talaud memiliki teknologi tekstil yang maju dengan memanfaatkan potensi alam sekitar.

Berbicara Tentang Balay

Ilustrasi dari Balay, rumah adat suku Sangihe-Talaud (Gemini)

Selain busana, identitas Suku Sangihe-Talaud juga tertanam kuat dalam rumah adat mereka yang bernama Balay. Rumah tradisional ini dirancang dengan kecerdasan di masa lampau untuk menghadapi berbagai cobaan yang datang dari alam kepulauan yang mana, untuk Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud sendiri, terkadang rawan gempa dan berangin kencang.

Balay, umumnya berbentuk rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga yang kuat. Atap dari rumah tradisional ini terbuat dari rumbia atau daun sagu yang disusun rapat untuk memberikan kesejukan di tengah cuaca pesisir yang terik. 

Nah, struktur panggung dari Balay bukan tanpa alasan menjadi tinggih dan kokoh. Hal ini dikarenakan, selain untuk menghindari masuknya air saat pasang atau banjir, ruang di bawah rumah juga sering digunakan sebagai tempat menyimpan alat-alat nelayan atau hasil kebun.

Dibalik kemegahan dan betapa kuatnya Balay ini, terdapat sebuah filosofi dari Waleng Kewahwa yang mengartikan keterbukaan.

Dalam Balay, ruang tamu yang luas tanpa banyak sekat menunjukkan betapa masyarakat Sangihe-Talaud sangat menghargai keramah-tamahan dan semangat persaudaraan. Di dalam rumah inilah, berbagai keputusan adat dan pembicaraan kekeluargaan dilakukan dengan penuh hikmat.

Itu dia penjelajahan Indozone terkait suku Sangihe-Talaud. Semoga informasi-informasi ini bermanfaat buat kamu ya, Indozone. Jangan lupa untuk simpan, serta bagikan ke teman dan keluarga kamu kala mereka penasaran dengan Suku Sangihe-Talaud. Jangan tunda rencana kamu lagi. Ayo, kunjungi surga si ufuk Provinsi Sulawesi Utara ini. Sampe Bakudapa Ulang.

 

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU