Sulawesi Utara - Meski hidup pada masa yang berbeda dan menghadapi tantangan yang tidak sama, para pahlawan nasional memiliki satu kesamaan: keberanian memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Sulawesi Utara sendiri tidak hanya dikenal lewat pesona lautnya yang indah dan suasana pegunungan Minahasa yang sejuk, tetapi juga melalui jejak sejarah para tokoh yang lahir dari daerah ini. Hingga sekarang, nama dari para pahlawan nasional asal Sulut masih begitu dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari yang diabadikan menjadi nama jalan utama, gedung pemerintahan, hingga kawasan publik di berbagai daerah.
Berikut, dalam artikel ini Indozone telah merangkum delapan pahlawan nasional asal Sulawesi Utara yang hingga kini tetap dikenang dan menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
1. Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi
Sulit membicarakan sejarah Sulawesi Utara tanpa menyebut nama Sam Ratulangi. Nama lengkapnya adalah Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Ia lahir di Tondano dan dikenal sebagai tokoh intelektual, pendidik, jurnalis, sekaligus pemimpin nasional. Sam Ratulangi juga tercatat sebagai Gubernur Sulawesi pertama setelah Indonesia merdeka.
Pemikirannya dikenal maju pada zamannya. Ia aktif memperjuangkan pendidikan, mendorong kebangkitan nasional, serta menyuarakan pentingnya persatuan Indonesia.
Indozone, tahukah kamu? Sam Ratulangi merupakan pencetus semboyan “Si Tou Timou Tumou Tou” yang sangat dikenal di Sulawesi Utara. Maknanya sederhana tetapi kuat, Sam Ratulangi mewariskan ide kepada generasi baru yang dia tinggalkan, dimana sebagai manusia, tugas kita adalah untuk memanusiakan manusia lain. Sampai sekarang, semboyan warisan Sam Ratulangi itu masih terasa dekat dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Utara.
2. Maria Walanda Maramis
Kalau Pulau Jawa mempunyai Raden Ajeng Kartini, maka Bumi Minahasa memiliki srikandi tangguh bernama Maria Walanda Maramis. Lahir di Kema, Minahasa Utara, Maria tumbuh menjadi sosok pendobrak adat kuno yang saat itu membatasi ruang gerak perempuan hanya di dalam ranah domestik rumah tangga.
Pada tahun 1917, Maria mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya) sebagai wadah edukasi bagi kaum perempuan untuk belajar membaca, menulis, memahami ilmu kesehatan keluarga, serta keterampilan industri rumah tangga. Organisasi ini mendorong perempuan Minahasa mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan memperluas kesempatan perempuan dalam kehidupan sosial.
Maria menunjukkan bahwa, perubahan sosial bisa dimulai dari pendidikan di rumah dan keberanian perempuan untuk berkembang.
3. Arie Frederik Lasut
Lahir di Kapataran, Minahasa, Arie Frederik Lasut adalah seorang ahli pertambangan dan geologi muda yang memiliki kecerdasan luar biasa pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Arie Lasut merupakan Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia. Sebagai salah satu Founding Father dalam organisasi penting tersebut, Arie Lasut memegang peranan krusial dalam mengamankan dokumen-dokumen penting mengenai potensi kekayaan tambang Indonesia dari incaran pihak penjajah Belanda yang ingin merebutnya kembali.
Keteguhannya untuk tidak mau bekerja sama dengan pihak asing membuatnya harus gugur di usia yang sangat muda, 30 tahun, setelah dieksekusi oleh tentara kolonial di Yogyakarta.
Dedikasinya menunjukkan bahwa perjuangan untuk Indonesia tidak selalu dilakukan di medan perang. Kadang lewat ilmu pengetahuan dan tanggung jawab profesional.
4. Bernard Wilhelm Lapian
Bernard Wilhelm Lapian pernah dipercaya sebagai Gubernur Sulawesi menggantikan Sam Ratulangi. Di masa awal republik yang penuh tekanan, Bernard Lapian hadir sebagai figur penting dalam pemerintahan dan perjuangan politik nasional. Namanya mungkin tidak selalu muncul di ruang publik seperti tokoh besar lain, tetapi kontribusinya sangat penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan dan memperkuat posisi Indonesia di kawasan timur.
Salah satu torehan sejarah terbesarnya adalah keterlibatannya dalam Peristiwa Heroik 14 Februari 1946 di Manado, di mana para pemuda dan tentara pro-Republik berhasil merebut kekuasaan dari tangan tentara sekutu dan mengibarkan bendera Merah Putih di atas tanah Sulawesi Utara. Beliau juga memelopori kemandirian rohani masyarakat lokal melalui pendirian Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) yang terlepas dari pengaruh organisasi kolonial.
Integritas moral dan kelihaian B.W. Lapian kini menjadi standar nilai bagi aparatur sipil muda dan pelaku industri media di Sulawesi Utara untuk selalu mengedepankan kejujuran, keterbukaan informasi, dan dedikasi total bagi kenyamanan hidup masyarakat
5. Daan Mogot
Nama Daan Mogot mungkin terdengar familiar dengan nama jalan di kawasan ibu kota Jakarta dan Tangerang, namun sejarah mencatat bahwa kesatria muda ini adalah putra asli kelahiran Manado.
Lahir dengan nama Elias Daniel Mogot, di usianya yang aru menginjak 17 tahun, Daan Mogot telah dipercaya menjadi direktur pertama Akademi Militer Tangerang pada tahun 1945. Ia memimpin dan mendidik para taruna muda dengan disiplin tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Daan Mogot gugur secara heroik dalam Pertempuran Lengkong saat berusaha melucuti senjata tentara Jepang demi mencegah pertumpahan darah yang lebih besar.
Bagi generasi muda Sulawesi Utara, sosok Daan Mogot sering dikenang sebagai contoh keberanian dan pengabdian. Daan Mogot menjadi bukti solid bahwa, usia muda bukan penghalang untuk memberi kontribusi besar bagi bangsa.
6. Arnold Mononutu
Arnold Mononutu menjadi salah satu tokoh penting Indonesia di masa awal kemerdekaan. Ia dikenal aktif dalam perjuangan politik nasional serta punya peran besar dalam diplomasi dan pemerintahan.
Lahir di Manado, Arnold menempuh pendidikan tingginya di Paris, Prancis, menjadikannya sebagai salah satu intelektual Indonesia yang memiliki jaringan diplomasi internasional yang sangat luas di Eropa.
Arnold dikenal sebagai "Singa Podium" karena kemampuan orasinya yang memukau dalam membela kedaulatan Indonesia di forum-forum dunia. Pasca-kemerdekaan, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia dan menjadi Duta Besar pertama Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok.
7. Laksamana Muda (Anumerta) John Lie
John Lie adalah satu-satunya laksamana dengan julukan legendaris bernama The Black Speedboat. Dikenal sebagai ahja Daniel Dharma kala bertugas, John Lie merupakan seorang perwira angkatan laut keturunan Tionghoa kelahiran Manado yang memiliki nyali sebesar samudra.
Sejarah mencatat, menggunakann kapal motor tercinta yang ia namakan sebagai Outlaw, John Lie berulang kali berhasil menembus blokade laut ketat yang dipasang oleh armada militer Belanda di perairan Nusantara. Ia menyelundupkan hasil bumi Indonesia ke luar negeri untuk ditukarkan dengan senjata, amunisi, dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh para pejuang kemerdekaan di garis depan.
Kehebatannya menavigasi kapal di tengah malam buta tanpa terdeteksi radar musuh menjadi legenda tersendiri dalam sejarah maritim dunia. John Lie dikenal berani mengambil risiko besar demi kepentingan republik.Sampai sekarang namanya dihormati sebagai simbol keberanian di laut dan dedikasi terhadap kedaulatan Indonesia.
8. Bataha Santiago
Pada abad ke-17, hidup seorang raja legendaris dari Kerajaan Manganitu bernama Bataha Santiago. Beliau adalah simbol perlawanan paling gigih dari gugusan pulau Nusa Utara terhadap keangkuhan monopoli dagang kongsi Hindia Belanda.
Kala itu, Santiago dengan tegas menolak menandatangani perjanjian Lange Contract yang disodorkan oleh VOC karena tahu perjanjian tersebut hanyalah kedok untuk menjajah dan memeras keringat rakyatnya.
Kalimat perlawanannya yang terkenal hingga kini adalah: "Biar saya mati digantung, saya tidak akan tunduk pada kompeni!" Santiago akhirnya gugur di tiang gantungan sebagai martir kebebasan demi mempertahankan harga diri dan kedaulatan tanah leluhurnya.
Keberaniannya menjadikan Bataha Santiago dikenang sebagai simbol perlawanan masyarakat Sulawesi Utara terhadap kolonialisme. Bagi masyarakat Nusa Utara, namanya sangat dekat dengan identitas daerah. Dan kini dikenal lebih luas sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Masih banyak pahlawan-pahlawan di Provinsi Sulawesi Utara. Setiap hari, daftar ini dapat diperbaharui dengan nama-nama baru yang mengharumkan Nusantara. Semoga, para pembaca Indozone menemukan artikel ini bermanfaat ya, siapa tahu, nama Indozone selanjutnya yang akan mencatat sejarah sebagai salah satu pahlawan nasional di kemudian hari yang akan mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan