Trans Manado di salah satu perhentian bus (Dinas Perhubungan Kota Manado)
Sulawesi Utara - Kehadiran dari Trans Manado mendapatkan ancaman yang besar-besaran dari para pelaku usaha yang juga menjadikan moda transpotasi sebagai lapngan pekerjaan mereka, yakni para pengemudi mikrolet. Berbagai penghadangan, aksi damai yang menuntut Trans Manado untuk diberhentikan sempat terjadi selama beberapa kali di bulan ini. Pada hari Senin, (22/12) kemarin contohnya, sempat ada edaran yang bertujuan untuk pemeritahuan aksi damai dari asosiasi sopir mikrolet Kota Manado di Zero Point menuju kantor Wali Kota. Namun, berdasarkan pantauan dari tim Indozone, rencana tersebut sepertinya dibatalkan, usai jalur dari mikrolet ini tetap ramai.
Di tengah-tengah kemacetan antusiasme masyarakat untuk menyambut perayaan natal serta tahun baru, para penumpang mikrolet tetap tampak memenuhi moda transpotasi ini. Anaya, seorang mahasiswa asal Universitas Sam Ratulangi mengungkapkan alasannya memilih mikrolet dibanding Trans Bus dikarenakan: "mikrolet masih relevan. Banyak jalur yang tidak bisa di lewati Trans Bus yang mikrolet bisa jangkau termasuk ke rumah saya." ujarnya saat diwawancarai.
Kevin, salah satu karyawan kantor yang kami temui kemarin pun mengatakan hal yang sama. Saat berbagi satu mikro bersama tim kami menuju Pasar Karombasan, Kevin mengungkapkan alasannya memilih naik mikro dibanding Trans Bus dikarenakan: "Hanya anak muda yang tau pakai uang digital. Orang tua seperti saya yang tidak cakap teknologi hanya bisa bersandar dengan mereka yang menerima uang tua saya."
Dengan demikian, meski kehadiran Trans Manado menandakan kemajuan di bidang transpotasi Sulawesi Utara, biru mikrolet masih disukai oleh jutaan mata di kalangan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan