Sulawesi Utara – Kehadiran dari seorang guru merpakan kunci dan hal paling penting untuk mencapai generasi yang gemilang, cerdas, dipenuhi simpati. Untuk mendukung hal tersebut, maka guru layaknya mendapatkan upah serta tunjangan yang memadai kehidupan mereka dengan tanggung jawab serta ekspetasi yang begitu berat di kedua bahu mereka.
Perhari ini, selasa (25/11) negara kita, Republik Indonesia merayakan Hari Guru Nasional tahun 2025 sebagai bentuk peringatan akan jasa tenaga guru yang telah membesarkan generasi demi generasi anak muda tanpa lelah. Di tengah-tengah euforia perayaan yang dilaksanakan pada hari ini, ironisnya beberapa nasib guru di Provinsi Sulawesi Utara masih jauh dari kesehjateraan dan kurang mengenakan.
Kristin (nama samaran), adalah salah seorang guru non asn yang mengajar mata kuliah matematika di sebuah sekolah menengah pertama. Saat ditemui untuk wawancara kemarin, Krtistin mengaku jika gaji yang dia terima setiap bulannya kurang lebih adalah lima ratus ribu, tanpa tunjangan.
“Saya bersyukur memiliki pekerjaan ini, dan mencintai pekerjaan saya untuk mengabdi kepada negara dengan mencerdaskan anak-ana. Saya bukan mau mengeluh. Tapi kami, guru-giri sehari-hari juga punya kebutuhan.” Ujar Kristin. Untuk menambah penghasilan, seusai pulang setelah mengajar di sekolah, Kristin membuat adonan kue yang biasanya dia promosikan di media sosial, dan dihantarkan ke rumah para pelangganya setiap hari.
“Saya harap di kemudian hari, pemerintah memperhatikan kami terutama guru-guru honororer agar kami tetap semangat tentunya mengajar anak-anak.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan