Jumat, 03 APRIL 2026 • 21:28 WIB

Passio, Kisah Sengsara Tuhan Yesus di Jumat Suci di Kota Manado

Author

Ilustrasi dari potret salib (Unsplash)

Sulawesi Utara - Selain masa natal, masa paskah sama dirayakan semeriah mungkin di seluruh pelosok yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Jadi, jangan heran ketika pekan suci tiba suasana di Provinsi ini tersaji dengan sangat berbeda. Bahkan, pada hari Jumat (03/04) ini, jangan terkejut jika kamu menemukan di tengah jalan di Kota Manado, Tomohon atau di wilayah Minahasa, segerombolan muda-mudi berpakaian prajurit Romawi dan wanita pada zaman lampau di pinggir jalan, tengah mengawal seorang pria yang memanggul salib kayu berat dan berjalan tanpa alas kaki di atas aspal.

Inilah yang disebut dengan Pasio Paskah atau Jalan Salib Hidup (Via Dolorosa). Penasaran? Bersama Indozone ayo kita selami makna dibalik tradisi rutin yang dilaksanakan setiap Masa Prapaskah di Sulawesi Utara ini.

Mengenal Passio, dan Via Dolorosa

Kata "Passio" merupakan kata yang berasal dari bahasa Latin  yang berarti penderitaan. Dalam konteks liturgi Kristiani, Passio merujuk pada rangkaian peristiwa dari penderitaan Yesus Kristus sebelum menjelang kematian-Nya dari awal. Jauh mulai dari taman Getsemani, pengadilan di hadapan Pilatus, pemikulan salib menuju Bukit Golgota hingga hingga Kematiannya-Nya.

Di Sulawesi Utara, Passio merupakan dramatasi dari peristiwa-peristiwa tersebut dan divisualisasikan biasanya oleh Umat Katolik dalam menjalankan ibadah jalan salib. Tujuannya jelas, selain menjadi tradisi, Jalan Salib Hidup ini bertujuan untuk membawa pesan betapa besar pengorbanan dan penebusan Tuhan Yesus, langsung ke tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Passio atau Jalan Salib Hidup ini diperankan dan dipersiapkan oleh gereja dengan para pemerannya sendiri, datang dari anggota jemaat dan terlebih khusus, biasanya oleh muda-mudi di gereja. 

Kehadiran Passio di Tengah Masyarakat Kala Jumat Agung

Pada hari Jumat, (03/04) hari ini, seluruh Umat Nasrani yang ada di seluruh dunia melaksanakan ibadah Jumat Agung untuk mengenang wafatnya Yesus. Tidak sedikit beberapa gereja, baik aliran Kristen Protestan maupun Katolik yang menggelar Passio, atau Via Dolorosa. Salah satunya, adalah Via Dolorosa yang diselenggarakan oleh Paroki St Petrus Warembungan.

Jalan salib hidup yang digelar pada pukul 13.00 WITA ini mengambil rute yang mengitari sekeliling area gereja dan desa sebelum berakhir di area sebuah lapangan. Tidak sedikit, masyarakat sekitar selain umat yang mengikuti kisah sengsara Kristus ini dikarenakan merasa penasaran serta merasa tertarik untuk menyaksikan teater hidup dan kudus ini pemeran Yesus secara detail divisualisasikan menderita hingga pada detik-detik kematiannya pada adengan puncak ini, tidak sedikit dari masyarakat, yang ikut isak tangis kala mengenak dan menghayati kematian Yesus.





Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU