Potret dari pilar Klenteng Ban Hin Kiong, Manado (Sakurai Midori (Wikimedia))
Sulawesi Utara - Sejarah merupakan hal yang penting dan menjadi jati diri dari sebuah bangsa. Di Kota Manado, yang dahulunya menjadi sebuah dataran dengan pemandangan laut, berdiri sebuah bangunan bambu sebagai rumah ibadah bagi para pedagang yang berlayar jauh dari tanah Cina. Bangunan bambu itu, lantas dikenal sebagai: Klenteng Ban Hin Kiong sekarang. Menjadi saksi bisu dari sejarah dan perkembangan Bumi Nyiur, simak berikut sejarah dari klenteng cerminan jati diri dari sejumlah masyarakat di Kota Manado.
Klenteng Ban Hin Kiong mendapatkan status sebagai salah satu Situs Cagar Budaya di Kota Manado dengan umurnya yang begitu panjang. Klenteng ini diperkirakan berdiri pada tahun 1819 dengan bahan utama yang terbuat dari bambu menjadikannya pada saat itu hanya sebuah rumah ibadah sederhana untuk para pedagang yang datang berlabuh dari Tionkok. Selama satu abad pertama, klenteng ini mendapatkan beberapa kali pemugaran dan renovasi, rumah ibadah yang dibangun dengan bambu itu lantas bertahan hingga sampailah kita pada tahun 1935, dimana Klenteng Ban Hin Kiong, lantas dikelola pertamakalinya oleh Organisasi Perkumpulan Sam Khauw Hwee yang diinisiatif oleh Yo Sio Sien dan Quen Boen Tjen.
Pada tahun 1970, tepatnya pada tanggal 14 Maret, Klenteng Ban Hin Kuong pernah mengalami kebakaran pada rumah ibadah mereka oleh sekelompok orang, hingga pada akhirnya renovasi besar-besaran lantas dilakukan sekaligus penambahan lantai dan perluasan halaman.
Dalam bahasa Tiongkok, Ban Hin Kiong memiliki tiga kata yang berati: Ban adalah banyak, Hin adalah berkah dan Kiong adakah istana. Tiga kata ini membentuk sebuah makna bagi rumah ibadah yang telah berdiri hampir 300 tahun di Kota Manado sekarang.
Klenteng Ban Hin Kiong dipercantik menjadi Situs Cagar Budaya sekaligus sebagai rumah ibadah. Klenteng ini menjadi pusat utama dari beragam kegiatan pada Tahun Baru Imlek yang diselenggarakan setiap tahunnya. Menjadi salah satu bangunan ciri khas dalam lingkungan Kampung Cina di Calaca, Klenteng Ban Hin Kiong selain dikunjungi oleh para umatnya, terkadang mendapatkan kunjungan dari wisatawan yang penasaran dan takjub untuk melihat detail arsitektur yang menawan dari klenteng tertua di Kota Manado ini.
Nah, dengan kehadiran dari sebuah Klenteng Ban Hin Kiong yang jadi warisan sejarah ini, tentunya merupakan hal penting bagi kita untuk membantu pelestarian dari situs dan bangunannya. Pelestarian nilai budaya dan meningkatkan kerukunan beragama dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana, yakni menggali nilai histori yang menunjukan berbagai refrensi. Semoga dengan rangkuman indozone ini pengetahuan kamu semakin bertambah untuk ikut melestarikan situs Klenteng Ban Hin Kiong ya, Indozone! Sampe Bakudapa Ulang!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan