Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 07 MEI 2026 • 20:30 WIB

Upacara Tulude. Warisan Budaya Marintim Sangihe, Talaud, dan Sitaro

Upacara Tulude. Warisan Budaya Marintim Sangihe, Talaud, dan SitaroPotret dari pemotongan Tamo di Upacara Tulude 2026 (Victor Mailangkay (Facebook))

Sulawesi Utara - Satu tahun, ada 365 hari. Di hari-hari ini, Indozone pasti telah merasakan rasa suka, duka, dan penuh harapan yang membuat tahun baru rasanya seperti sebuah buku tebal penuh misteri namun berisikan halaman kosong yang bikin kamu ketar-ketir, penasaran. Nah, bagaimana kalau kamu mengusir rasa ketar-ketir itu dengan sebuah tradisi yang berisi tarian massal, kue raksasa, dan mengucap doa langusng di tepi laut? 

Kenalin dengan yang namanya Tradisi Tulude. Berasal dari dari perbatasan utara Indonesia, Tulude merupakan sebuah upacara adat syukur dari Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Penasaran dengan Upacara Tulude? Ikuti jejak Indozone buat menjelajahi warisan budaya dari ombak pasifik dan angin timur penuh rasa syukur Tulude!

1. Apa Itu Tulude?

Tulude merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Sangihe berbunyi, "Suhude". Apa arti Suhude? Suhude berarti melepaskan, atau mendorong sesuatu ke arah laut. Yang mana, dalam konteks budaya, Tulude dimaknai sebagai tindakan simbolis untuk "mendorong" segala hal-hal buruk, seperti kesedihan, kegagalan, dan dosa di tahun yang telah lalu, supaya tidak lagi membebani langkah manusia di tahun yang baru.

Nah, oleh sebab hal ini, maka Tulude direalisasikan setiap bulan Januari, dan biasanya pada awal bulan. Untuk masyarakat dari dari Sangihe, Talaud, dan Sitaro, Tulude ini bukan hanya sekedar event yang harus dilakukan pada awal tahun, melainkan sebuah siklus kehidupan yang harus diawali dengan hati yang suci.

Lewat Tulude, masyarakat dapat memohon ampunan atas segala kekhilafan dan menyatakan syukur mereka yang tak terhingga atas perlindungan yang diberikan oleh Mawu Ruata, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa selama setahun penuh. Mengingat, 365 hari tentunya bukanlah waktu cepat untuk semua orang.

Memasuki tahun 2026, tantangan pelestarian budaya semakin nyata dan terasa di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Nyatanya, sejumlah warisan leluhur dari masa ke masa beberapa telah terlupakan. Namun, Tulude terbukti mampu beradaptasi dengan zaman. Kini, upacara Tulude tidak hanya dirayakan di Sangihe atau Talaud, tetapi juga oleh komunitas perantau Nusa Utara di Manado, Jakarta, bahkan hingga ke luar negeri.

Filosofi dalam Tulude, menggambarkan keterkaitannya dengan gaya hidup maritim; sebagaimana pelaut yang harus membuang muatan yang rusak agar kapalnya tetap stabil saat mengarungi samudra luas. Hal ini, demikian pula sama berlakunya untuk manusia, yang mau untuk terus melangkah ke hari baru, maka mereka harus membuang sifat buruk agar hidupnya tetap seimbang.

2. Tiga Bagian Penting Tulude

Dalam upacara Tulude, terbagi tiga bagian penting yang masing-masing menggambarkan khidmat, dan pesta pelepasan. Ketiga bagian dalam Tulude itu, kurang lebih adalah:

1. Mawu Ruata 

Mawu Ruata adalah tahap pertama dalam Upacara Tulude yang menjadi doa syukur dan dipimpin oleh pemuka adat atau Mukunu. Uniknya, dalam tradisi masyarakat setempat, Mawu Ruata tidak memisahkan antara kepercayaan dan adat, sehingga Mawu Ruata dapat dibawakan dalam doa kepercayaan agama masyarakat setempat, atau kepercayaan leluhur.

Talaud dan Sitaro, berbicara tentang laut berati bicara tentang rumah mereka sehingga Mawu Ruata, umumnya dilantunkan menghadap pada laut yang mana jadi pengakuan umat manusia, bahwa kehidupan kita bergantung pada biru samudra yang luas dan terhitung. Untuk masyarakat Sangihe.

2. Pemotongan Tamo

Setelah Mawu Ruata, masuklah kita pada bagian yang paling ditunggu-tunggu, yakni Pemotongan Tamo. Apa itu Tamo? Tamo adalah kue adat masyarakat Nusa Utara. Bentuknya seperti segitiga dengan bagian runcing menghadap atas, dan yang besar pada bagian bawah. Bahan utama Tamo adalah ketan, permukaan Tamo ditaburi kelapa parut dan gula aren. Aromanya wangi, legit, mengingatkanmu pada kue apem tetapi lebih padat.

Mengingat Tamo akan dibagikan kepada orang banyak, Tamo biasanya dihias secantik mungkin dengan beragam hasil bumi dan laut, seperti buah-buahan, dan bunga yang melambangkan kebaikan ibu pertiwi, atau alam untuk menyediakan.. Untuk pemotongan dari Tamo sendiri tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Tetua adat atau tokoh masyarakat, adalah orang yang akan memotong bagian puncak Tamo dengan pisau upacara, kemudian potongan pertama akan disimpan sebagai persembahan untuk Ruata.

Selanjutnya, pemotongan Tamo bagian kedua  diberikan kepada para janda dan anak yatim, sebagai simbol kepedulian sosial. Sisanya dibagikan kepada semua warga dan tamu yang hadir.

Makna dibalik pemotongan Tamo ini begitu dalam. Dalam filosofi Tulude, memotong Tamo berarti memotong ego, memotong sisa-sisa penyesalan tahun lama. Setiap orang, tanpa memandang kaya miskin, mendapat bagian yang sama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Upacara Tulude. Warisan Budaya Marintim Sangihe, Talaud, dan Sitaro

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!